<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Workshop Kiat Berkomunikasi Sehat dengan Anak</title>
	<atom:link href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com</link>
	<description>Bersama Ibu Elly Risman</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 May 2007 06:55:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='workshopsalamaa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Workshop Kiat Berkomunikasi Sehat dengan Anak</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/osd.xml" title="Workshop Kiat Berkomunikasi Sehat dengan Anak" />
	<atom:link rel='hub' href='http://workshopsalamaa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rekaman TOL Bersama Ibu Elly RIsman Musa, 2 Mei 2007</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/09/rekaman-tol-bersama-ibu-elly-risman-musa-2-mei-2007/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/09/rekaman-tol-bersama-ibu-elly-risman-musa-2-mei-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 06:47:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/09/rekaman-tol-bersama-ibu-elly-risman-musa-2-mei-2007/</guid>
		<description><![CDATA[Rekaman Taujih Online (TOL) bersama Ibu Elly Risman Musa, pada tanggal 2 Mei 2007, dengan topik &#8220;Problema Sehari-hari dalam Pengasuhan&#8221; bisa di download disini . Berikut ini daftar pertanyaan yang diajukan sebelum acara dan saat acara TOL berlangsung. More&#8230; Pertanyaan &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/09/rekaman-tol-bersama-ibu-elly-risman-musa-2-mei-2007/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=44&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekaman Taujih Online (TOL) bersama Ibu Elly Risman Musa, pada tanggal 2 Mei 2007, dengan topik</p>
<p>&#8220;Problema Sehari-hari dalam Pengasuhan&#8221; bisa<a href="http://evans.ub.rug.nl/~fahmi/tol/"> di download disini</a> .<br />
Berikut ini daftar pertanyaan yang diajukan sebelum acara dan saat acara TOL berlangsung.</p>
<p>More&#8230;</p>
<p>Pertanyaan yang dikumpulkan sebelum TOL  dari peserta di Belanda :</p>
<p>Pertanyaan 1.</p>
<p>Di LN masalah pornografi &amp; pornoaksi sudah susah sekali untuk dihindari. kalaupun kita berusaha melindungi anak2 dr tv/majalah, tapi di luar rumah, kita &amp; anak2 akan dgn sangat mudahnya terexpose dengan berbagai bentuk pornografi dan pornoaksi. Terlebih lagi di belanda ini dimana hubungan sesama jenis yg sudah amat vulgar. Keterbiasaan melihat itu mau tidak mau berpengaruh pada pola pikir. Yang biasa terlihat, itulah yang dipahami anak sebagai yang boleh/wajar.</p>
<p>Bagaimana kita melindungi anak2 dari pola pikir &#8216;itu kan susah biasa&#8217; seperti ini? dan Bagaimana memberi penjelasan yg mudah untuk dipahami anak2?</p>
<p>Pertanyaan 2.</p>
<p>a.                  Peer-Pressure<br />
&#8220;Peer pressure&#8221;, atau tekanan dari teman sebaya, adalah hal yang lumrah dialami oleh seorang anak. Fenomena ini muncul jika mayoritas anak melakukan suatu hal, maka anak yang lain juga akan mengikuti hal itu. Peer-pressure bisa berakibat positif (jika mayoritas temannya berbuat baik) maupun negatif (jika mayoritas temannya berbuat buruk). Bagaimana mengajarkan kepada anak, agar tidak merasa terbebani dengan peer-pressure tersebut? Apa yang bisa dilakukan di rumah (secara praktik), agar orangtua bisa menumbuhkan kedewasaan dan kemandirian anak di tengah pergaulan dengan teman-temannya?</p>
<p>b.                  Kompetitif vs Kooperatif</p>
<p>Dalam dunia yang ideal, seluruh manusia seharusnya bisa saling bekerja sama, dalam bidang apapun. Sementara itu, dunia juga begitu kompetitif. Terkadang kompetisi itu begitu keras, sehingga bisa muncul sifat egois serta iri hati. Kemudian seseorang tidak mau berbagi resep keberhasilannya karena takut orang lain akan mengikuti keberhasilannya. Atau seseorang anak tidak mau membantu temannya belajar karena khawatir nantinya akan tersaingi jika temannya menjadi bisa. Pertanyaan yang muncul: bagaimana caranya mendidik anak agar dapat tumbuh menjadi manusia yang kooperatif sekaligus mampu bertahan di tengah dunia yang kompetitif?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan 3</p>
<p>a.Bagaimana peran aktif saya sebagai ibu agar saya dapat mendidik anak (anak<br />
saya Rido: 5 th sekolah SD &#8220;katholik&#8221;) secara prisip islam&#8230;memberikan<br />
kesadaran kalo kita tuh tinggal di Belanda, tapi prinsip kita hanya Islam<br />
saja&#8230;dan segala yg bertentangan dengan prinsip Islam harus di<br />
elakan&#8230;.Atau haruskah saya masukan anak ke sekolah Islam(yg jaraknya cukup<br />
jauh, kondisi sekarang lebih sulit))&#8230;agar basisnya kuat sehingga tidak<br />
akan terpengaruh dengan arus luar yg tidak baik&#8230;mohon saran dan masukan2x<br />
dari ibu Ely&#8230;.</p>
<p>b Bagaimana melatih anak untuk disiplin&#8230;misal: tiap hari pulang sekolah<br />
harus ngaji dulu, baru boleh bermain&#8230;.kadang2x dia marah mengelak dan<br />
nangis, ngga mau ikut permintaan kita. apakah kita los, atau harus tetap pada permintaan kita tadi&#8230;.mohon perjernihannya agar kita sama anak bisa membuat perjanjian dan diapun senang untuk mengerjakannya.</p>
<p>4. Bagaimana kalau anak kita hamil dalam usia dini, walaupun kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk ke jalan Allah. Tapi tetap aja terjadi, apa lagi kalau di sini anak2x sekolah dari jam 8 15 berangkat dari rumah, sampai dirumah lagi jam 16.30. Apa yang harus kita lakukan?</p>
<p>5. Tinggal di Luar negeri seperti di Belanda ini semua serba sendiri, tidak ada pembantu dan tidak ada juga yang bisa dititipi. Saya sering baca tentang teori-teori parenting yang menekankan pentingnya konsisten dan sabar dalam mengasuh anak, tentu juga dalam hal menegakkan disiplin. Tapi bu, seringnya, saya kehabisan energi, capek mengurus rumah, bolak balik antar jemput anak2 sekolah dan les, belanja, semua pakai sepeda (yang kalau angin lagi kencang betul-betul menguras tenaga). Belum lagi saya juga butuh waktu untuk sesekali keluar dari rutinitas. Padahal semua pekerjaan itu sudah saya bagi dua dengan suami, tapi tetap saja bu, kelelahan itu menyebabkan saya dan suami kadang jadi tidak konsisten dan hilang kesabaran, akhirnya saya menurunkan espektasi supaya tidak stress.  Naah menurut ibu bagaimana mengatasi hal ini, supaya saya tetap bisa konsisten dan sabar dalam mendisiplinkan anak-anak walaupun dalam kondisi capek, sakit, dll ?</p>
<p>Pertanyaan yang dikumpulkan sebelum TOL  dari peserta di Jerman :</p>
<p>Pertanyaan 1 :</p>
<p>Saya mempunyai 3 anak perempuan. Anak ke 2 saya memiliki sifat cenderung tidak mandiri darpada 2 anak lainnya. Segala sesuatu minta dilayani, selalu memposisikan bahwa ia tidak bisa melakukan sesuatu dan selalu ingin dibantu oleh yang lain. Selain itu ia cenderung cepat sedih atau menangis, jika permintaannya belum dikabulkan (jika ada permintaan harus segera dikabulkan, tidka bisa menunggu). Ia juga cenderung merasa takut bersama dengan orang-orang yang baru dikenalnya.</p>
<p>Pertanyaan :</p>
<p>1.Bagaimana berkomunikasi dengannya untuk memotivasinya bahwa ia bisa melakukan sesuatu?</p>
<p>2. Bagaimana mengurangi kadar ke&#8217;cengeng&#8217;annya atau menumbuhkan rasa kedewasaaannya?</p>
<p>Pertanyaan 2 :</p>
<p>Anak saya yang sudah masuk TK, sudah mulai senang meniru tingkahlaku teman2nya di TK dan juga meniru model2 putri Barbie di buku/komputer, misalnya berdandan/ber make-up, memaki baju putri2 dan acceccoriesnya, sehingga pernah suatu hari ia meminta tidak memakai jilbab yang biasa ia pakai setiap ke TK, dikarenakan ia ingin seperti teman2nya dan putri2 khayalan itu.</p>
<p>Apakah kondisi yang anak saya alami ini adalah kondisi yang wajar atau harus ada sesuatu yang diperbaiki/diluruskan darinya. Bagaimana sikap atau momunikasi yang bijak untuk meluruskannya?</p>
<p>Pertanyaan 3 :</p>
<p>Saya ingin merasakan hubungan personal yang baik dengan setiap anak saya, tidak hanya salah satu. Adakah cara2 atau kiat2 dalam membangun kedekatan pribadi dengan setiap anak, karena seringkali setiap kegiatan atau kebersamaan saya dengan anak2 melibatkan ke 3 nya dalam waktu yang bersamaan?</p>
<p>Pertanyaan 4:</p>
<p>Seputar proses reintegrasi anak usia sekolah kembali ke indonesia, untuk anak yang lahir dan sekolah di luar negeri / Jerman bagaimana sebaiknya mempersiapkannya terutama mental.</p>
<p>Pertanyaan Saat TOL Berlangsung</p>
<p>Pertanyaan 1 :</p>
<p>a. Bagaimana melatih kecerdasan emosional anak?</p>
<p>b. Akhir- akhir ini sudah sering kita dengar di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya,anak2 menjelang usia puber  atau masih usia SD melakukan bunuh diri. Ditinjau dari sudut psikologis Kenapa mereka melakukan hal senekad ini? Sebagai contoh anak saya pernah bercerita pada saya bahwa temennya disekolah pernah curhat kepadanya, bahwa temannya itu merasa sedih dan marah sekali, sehingga dia menangis sampai2 terlintas dipikirannya mau bunuh diri. Maksudnya biar semua orang (Ortu dan teman2nya) merasa kaget dan sedih kalo dia meninggal cara itu. Apakah pada usia tersebut anak-anak wajar mempunyai pikiran seperti itu?</p>
<p>Pertanyaan 2 :</p>
<p>Ada seorang ibu yang ketika kecil punya pengalaman child abuse.ketika ia sudah menjadi ibu seringkali ia berbuat kasar kepada anaknya secara tidak sadar.pertanyaanya: dapatkah ia menjadi ibu yang baik tanpa dibayang2i pengalaman masa kecilnya?bagaimana cara menghilangkan pengaruh masa kecilnya itu?</p>
<p>Pertanyaan 3 :</p>
<p>Bagaimana jika anak pertama dan kedua tidak pernah rukun, mereka selalu cenderung bermusuhan. tapi anak kedua dan ketiga bisa rukun sekali, anak pertama dan ketia juga &#8220;kadang Kadang&#8221; rukun. menurut ibu, apakah yang salah dan bagaiamana cara kita menyelesaikannya? Info tambahan: anak pertama: 10, anak kedua: 7 anak ketida: 4tahun</p>
<p>Pertanyaan 4:</p>
<p>Untuk usia anak 14 tahun (anak tunggal),kita sering memberikan tanggung jawab padanya, tapi seringnya anak tersebut menolak tanggung jawab tersebut. pertanyaannya : bagaimana kita mengkomunikasikannya?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=44&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/09/rekaman-tol-bersama-ibu-elly-risman-musa-2-mei-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Internet dan Televisi, Orangtua dan Sekolah harus lebih banyak campur tangan</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/06/pengaruh-internet-dan-televisi-orangtua-dan-sekolah-harus-lebih-banyak-campur-tangan/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/06/pengaruh-internet-dan-televisi-orangtua-dan-sekolah-harus-lebih-banyak-campur-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 May 2007 08:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/06/pengaruh-internet-dan-televisi-orangtua-dan-sekolah-harus-lebih-banyak-campur-tangan/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam berita ranesi tanggal 20 april lalu (ada juga berita ini di jeugdjournal Belanda), katanya anak-anak SD di belanda sekarang makin banyak yang melakukan pelecehan seksual terhadap temannya. Dan menurut De winter, seorang guru besar pedagogi belanda, ini karena pengaruh &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/06/pengaruh-internet-dan-televisi-orangtua-dan-sekolah-harus-lebih-banyak-campur-tangan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=43&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:12pt;">Dalam berita ranesi tanggal 20 april lalu (ada juga berita ini di jeugdjournal Belanda), katanya anak-anak SD di belanda sekarang makin banyak yang melakukan pelecehan seksual terhadap temannya. Dan menurut De winter, seorang guru besar pedagogi belanda, ini karena pengaruh media. Dalam artikel di bawah ini, <span style="font-size:10pt;">dia mengatakan,&#8221;banyak orang tua berpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pengaruh televisi dan internet. Tapi itu tidak benar. orang tua dan sekolah harus lebih banyak campur tangan.&#8221;</p>
<p>Naah bagaimana caranya? Salah satunya tentu dengan meningkatkan ilmu kita sebagai orangtua, supaya kita tahu bagaimana menangkal pengaruh-pengaruh media ke anak kita, dan kata-kata apa yang harus kita tekankan ke anak-anak kita agar terhindar dari pelecehan seksual. Dulu waktu  saya ikut pelatihan dengan yayasan kita dan buah hati, saya diperlihatkan brosur bagaimana cara kita orangtua berbicara kepada anak dan bekal apa yang perlu kita berikan ke anak agar mereka terhindar dari pelecehan seksual, Nanti di acara workshop bisa kita tanyakan juga soal ini bagi yang ingin tahu.</span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:10pt;">Selamat membaca artikel ini dan  selamat daftar workshop&#8230; hehe <a href="http://maksa.com/" target="_blank">maksa.com </a> neh judulnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;"><span id="more-43"></span></p>
<h3>Pengaruh Internet dan Televisi Bagi Anak-Anak</h3>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;">Nina Eikens</p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span>20-04-2007</span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;"><strong>Bermain dokter-dokteran bukan hal baru bagi anak-anak. Tapi yang baru adalah semakin banyaknya dan semakin mudanya anak-anak dihadapkan dengan gambar-gambar bernuansa porno. Kekhawatiran terhadap dampaknya, meningkat pula. Baru-baru ini seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di kota Amersfoort, Belanda Tengah, melakukan pelecehan seksual terhadap teman sekolahnya. Selain itu ada dua sekolah dasar lagi yang muridnya berbuat tidak senonoh. Apakah ini disebabkan oleh gambar-gambar porno di televisi atau internet? Atau apakah karena peranan para pendidik? Guru besar pedagogi di Universitas Utrecht Micha de Winter mengusulkan agar peranan orang tua murid di sekolah, ditingkatkan.<!-- D(["mb","\u003c/strong\&gt;\u003c/span\&gt;\u003c/b\&gt;\n\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cstrong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Buku Het is niet leuk\u003c/span\&gt;\u003c/strong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;\u003cbr\&gt;\nKetika jam istirahat seorang anak laki-laki di SD de Vlindervallei di\nAmersfoort, Belanda Tengah itu, menarik seorang anak yang sebaya dengan dia ke\npangkuannya. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang bernuansa seksual. Apa\nyang dilakukan anak-anak ini tampaknya baru dan juga sering terjadi.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Martine\nDelfos adalah psikolog dan penulis buku anak-anak &#39;Het is niet leuk&#39; (Ini tidak\nmenyenangkan). Buku ini mengenai anak-anak yang melakukan pelecehan seksual\nterhadap anak-anak lain. Delfos heran kok banyak anak-anak yang memperlihatkan\nprilaku seksual secara terbuka.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Martine\nDelfos:\u003ci\&gt;&quot;Apa yang persis mereka lakukan memang hal yang baru, terutama\nvolumenya. Tapi gejala yang paling baru adalah coraknya yang sangat berbeda dan\nketerbukaanya. Dulu tidak seperti itu. Dulu biasanya tersembunyi. Kan main\ndokter-dokteran itu menyenangkan dan agak menegangkan. Dan orang dewasa tidak\nboleh tahu. Nah, sekarang apa yang dilakukan anak-anak itu sangat\nterbuka.&quot;\u003c/i\&gt;\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cstrong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Gambar-gambar porno\u003c/span\&gt;\u003c/strong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;\u003cbr\&gt;\nDewasa ini anak-anak lebih banyak dihadapkan dengan gambar-gambar seksual\ndibandingkan sekitar sepuluh tahun lalu. Mereka melihat tayangan pria-pria\nperkasa memukul pantat perempuan. Di internet anak-anak juga dikonfrontasi\ndengan gambar-gambar seks. Kalau kata-kata seperti &#39;kemaluan cewek&#39; dan\n&#39;Britney Spears&#39; diketik di google maka keluarlah gambar gambar-gambar\ntelanjang.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Menurut\nguru besar pedagogi Micha de Winter gambar-gambar itu bermakna lain bagi\nanak-anak.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;",1] );  //--></strong></span></strong></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Buku Het is niet leuk</span></strong><span style="font-size:10pt;"><br />
Ketika jam istirahat seorang anak laki-laki di SD de Vlindervallei di Amersfoort, Belanda Tengah itu, menarik seorang anak yang sebaya dengan dia ke pangkuannya. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang bernuansa seksual. Apa yang dilakukan anak-anak ini tampaknya baru dan juga sering terjadi.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Martine Delfos adalah psikolog dan penulis buku anak-anak &#8216;Het is niet leuk&#8217; (Ini tidak menyenangkan). Buku ini mengenai anak-anak yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak lain. Delfos heran kok banyak anak-anak yang memperlihatkan prilaku seksual secara terbuka.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Martine Delfos:<em>&#8220;Apa yang persis mereka lakukan memang hal yang baru, terutama volumenya. Tapi gejala yang paling baru adalah coraknya yang sangat berbeda dan keterbukaanya. Dulu tidak seperti itu. Dulu biasanya tersembunyi. Kan main dokter-dokteran itu menyenangkan dan agak menegangkan. Dan orang dewasa tidak boleh tahu. Nah, sekarang apa yang dilakukan anak-anak itu sangat terbuka.&#8221;</em></span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Gambar-gambar porno</span></strong><span style="font-size:10pt;"><br />
Dewasa ini anak-anak lebih banyak dihadapkan dengan gambar-gambar seksual dibandingkan sekitar sepuluh tahun lalu. Mereka melihat tayangan pria-pria perkasa memukul pantat perempuan. Di internet anak-anak juga dikonfrontasi dengan gambar-gambar seks. Kalau kata-kata seperti &#8216;kemaluan cewek&#8217; dan &#8216;Britney Spears&#8217; diketik di google maka keluarlah gambar gambar-gambar telanjang.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Menurut guru besar pedagogi Micha de Winter gambar-gambar itu bermakna lain bagi anak-anak.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><!-- D(["mb","\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Micha\nde Winter: \u003ci\&gt;&quot;Anak-anak yang menonton channel musik atau internet, mereka\nmendapat kesan bahwa perempuan-perempuan atau gadis-gadis yang mereka lihat itu\nmemang untuk digoda dan suka digoda. Jadi, gambar-gambar yang dilihat anak-anak\nitu tidak objektif.&quot;\u003c/i\&gt;\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cstrong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Antipasi dari sekolah\u003c/span\&gt;\u003c/strong\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;\u003cbr\&gt;\nTidak semua orang menganggap prilaku anak-anak itu sebagai hal yang salah.\nBermain dokter-dokteran memang ada dari dulu. Kadang-kadang memang menyimpang.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Ketua\nOrganisasi Pemimpin Sekolah di Belanda, Ton Duif, bertanya-tanya apakah ini\nsemua memang bermasalah. Menurut Duif anak-anak sekarang memang cepat dewasa\ndan suka mencoba-coba.\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"margin:0in 0in 0.0001pt\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;Ton\nDuif: \u003ci\&gt;&quot;Masalahnya semuanya dibesar-besarkan sehingga dianggap sebagai\nprilaku tidak normal. Itu sebenarnya prilaku alami. Tapi sekolah memang harus\nmengantisipasi. Sekolah memang harus berbuat.&quot;\u003c/i\&gt;\u003c/span\&gt;\u003c/p\&gt;\n\n\u003cp style\u003d\"text-align:justify;line-height:150%\"\&gt;\u003cspan style\u003d\"font-size:10pt\"\&gt;\u003cbr\&gt;\nIni bukan hanya kesalahan media baru. Menurut De Winter, \u003cspan style\u003d\"font-weight:bold\"\&gt;orang tua dan sekolah\nharus lebih banyak campur tangan\u003c/span\&gt;. De Winter menyadari sekarang banyak orang tua\nberpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pengaruh televisi\ndan internet. Tapi itu tidak benar. Karenanya, De Winter mengimbau agar orang\ndewasa menjadi tauladan. Harus memperlihatkan bahwa orang dewasa dalam\nkehidupan sehari-hari bergaul dengan cara berbeda dari apa yang mereka lihat di\ninternet dan videoklip.\u003cbr\&gt;\n\u003cbr\&gt;\n\u003ca href\u003d\"http://www.ranesi.nl/tema/pengetahuan/teknologi_informasi/TV_internetanak070420\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&gt;http://www.ranesi.nl/tema\u003cWBR\&gt;/pengetahuan/teknologi_informas\u003cWBR\&gt;i/TV_internetanak070420\u003c/a\&gt;",1] );  //--><span style="font-size:10pt;">Micha de Winter: <em>&#8220;Anak-anak yang menonton channel musik atau internet, mereka mendapat kesan bahwa perempuan-perempuan atau gadis-gadis yang mereka lihat itu memang untuk digoda dan suka digoda. Jadi, gambar-gambar yang dilihat anak-anak itu tidak objektif.&#8221;</em></span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-size:10pt;">Antipasi dari sekolah</span></strong><span style="font-size:10pt;"><br />
Tidak semua orang menganggap prilaku anak-anak itu sebagai hal yang salah. Bermain dokter-dokteran memang ada dari dulu. Kadang-kadang memang menyimpang.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Ketua Organisasi Pemimpin Sekolah di Belanda, Ton Duif, bertanya-tanya apakah ini semua memang bermasalah. Menurut Duif anak-anak sekarang memang cepat dewasa dan suka mencoba-coba.</span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;">Ton Duif: <em>&#8220;Masalahnya semuanya dibesar-besarkan sehingga dianggap sebagai prilaku tidak normal. Itu sebenarnya prilaku alami. Tapi sekolah memang harus mengantisipasi. Sekolah memang harus berbuat.&#8221;</em></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><br />
Ini bukan hanya kesalahan media baru. Menurut De Winter, <span style="font-weight:bold;">orang tua dan sekolah harus lebih banyak campur tangan</span>. De Winter menyadari sekarang banyak orang tua berpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pengaruh televisi dan internet. Tapi itu tidak benar. Karenanya, De Winter mengimbau agar orang dewasa menjadi tauladan. Harus memperlihatkan bahwa orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari bergaul dengan cara berbeda dari apa yang mereka lihat di internet dan videoklip.</p>
<p><a href="http://www.ranesi.nl/tema/pengetahuan/teknologi_informasi/TV_internetanak070420" target="_blank">http://www.ranesi.nl/tema/pengetahuan/teknologi_informasi/TV_internetanak070420</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=43&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/06/pengaruh-internet-dan-televisi-orangtua-dan-sekolah-harus-lebih-banyak-campur-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendurhakai Anak</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendurhakai-anak/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendurhakai-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2007 04:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muraza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendurhakai-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Mohammad Fauzil Adhim Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendurhakai-anak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=42&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Mohammad Fauzil Adhim </p>
<p>Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya.<!-- D(["mb","\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, &quot;Wahai Amirul Mukminin, \u003cbr\&amp;gt;bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Ya, tentu,&quot; jawab Umar tegas. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Anak itu bertanya lagi, &quot;Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur&#39;an kepadanya,&quot; jawab\n Umar menunjukkan. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Anak itu berkata mantap, &quot;Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa \u003c/font\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:rgb(0,102,204) 1px dashed\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;Ethiopia\u003c/span\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt; dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju&#39;al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur&#39;an). &quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, &quot;Engkau telah datang \u003cbr\&amp;gt;kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita,\n selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:rgb(0,102,204) 1px dashed\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;Kita\u003c/span\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt; sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai \u003cbr\&amp;gt;orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:rgb(0,102,204) 1px dashed\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;Kita\u003c/span\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt; sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat ",1] );  //--> Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, &#8220;Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?&#8221; . &#8220;Ya, tentu,&#8221; jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, &#8220;Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?&#8221;. &#8220;Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur&#8217;an kepadanya,&#8221; jawab Umar menunjukkan. </p>
<p>Anak itu berkata mantap, &#8220;Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju&#8217;al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur&#8217;an). &#8220;Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, &#8220;Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.&#8221; </p>
<p>Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka. </p>
<p style="text-align:justify;line-height:15.6pt;"><!--[if gte vml 1]&gt;                                                  --><!--[if !vml]--><span id="more-42"></span><!--[endif]-->Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat <!-- D(["mb","\u003cbr\&amp;gt;berisik dan membuat\n mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun \u003cbr\&amp;gt;kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa \u003cbr\&amp;gt;bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. \u003cspan style\u003d\"border-bottom:rgb(0,102,204) 1px dashed\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;Kita\u003c/span\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt; ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami \u003cbr\&amp;gt;pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak. Pendidikan yang kita jalankan \u003cbr\&amp;gt;pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. \u003cbr\&amp;gt;Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat,\n masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan \u003cbr\&amp;gt;menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, &quot;Anak pertama, Bu?&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Bukan,&quot; jawab istri saya, &quot;Ada kakaknya, cuma nggak ikut.&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?&quot; tanya ibu itu \u003cspan style\u003d\"border-bottom:rgb(0,102,204) 1px dashed\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;segera\u003c/span\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt;. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Baru empat. Ini anak yang keempat,&quot; jawab saya ikut menimpali. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Empat???&quot; tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget \u003cbr\&amp;gt;sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, &quot;Yang paling besar sudah kelas berapa?&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;TK A. Nol kecil,&quot; jawab istri saya. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, \u003cbr\&amp;gt;&quot;Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya\n punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.&quot; \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;",1] );  //-->berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak. </p>
<p>Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir. </p>
<p>Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, &#8220;Anak pertama, Bu?&#8221;. &#8220;Bukan,&#8221; jawab istri saya, &#8220;<br />
Ada kakaknya, cuma nggak ikut.&#8221; &#8220;Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?&#8221; tanya ibu itu segera. &#8220;Baru empat. Ini anak yang keempat,&#8221; jawab saya ikut menimpali. &#8220;Empat???&#8221; tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, &#8220;Yang paling besar sudah kelas berapa?&#8221;. &#8220;TK A. Nol kecil,&#8221; jawab istri saya. </p>
<p><span>Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, &#8220;Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.&#8221;. </span></p>
<p><span>Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur. </span></p>
<p><span>Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak. </span>Ketika anaknya sudah menjadi orangtua.</p>
<p><span>Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan. Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia<br />
penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri. Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua. Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. </span><span>Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, &#8220;Ngapain kamu pulang?&#8221;. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja. </span></p>
<p><span>Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka. </span></p>
<p><span>Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.</span></p>
<p><span>Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta&#8217;ala. Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub). <span style="background-attachment:scroll;">Kita</span> membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak. </span></p>
<p>Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak. </p>
<p style="text-align:justify;line-height:15.6pt;"><span>Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo&#8217;akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo&#8217;a untuk kesuksesan karier orang tuanya. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><!-- D(["mb","\u003cspan class\u003dad\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;\u003cp\&amp;gt; \n\n\n\n      \u003chr size\u003d\"1\"\&amp;gt;Ahhh...imagining that irresistible &quot;new car&quot; smell?\u003cbr\&amp;gt; Check out\n\u003ca href\u003d\"http://us.rd.yahoo.com/evt\u003d48245/*http://autos.yahoo.com/new_cars.html;_ylc\u003dX3oDMTE1YW1jcXJ2BF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDbmV3LWNhcnM-\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&amp;gt;new cars at Yahoo! Autos.\u003c/a\&amp;gt;\n\u003c/p\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt;",0] ); D(["ce"]);  //-->Sumber: <a href="http://usahamulia.net/" target="_blank"><span style="background-attachment:scroll;">usahamulia.net</span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=42&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendurhakai-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae04ba8976d8643d07749f45d1526328?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muraza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendidik-anak-di-tengah-tantangan-zaman/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendidik-anak-di-tengah-tantangan-zaman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2007 04:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muraza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendidik-anak-di-tengah-tantangan-zaman/</guid>
		<description><![CDATA[Masalah anak dan remaja masa kini sungguh berat. Ayah dan ibu pun harus bahu-membahu. Ani, sebut saja begitu, tersentak saat menemukan kalimat &#8216;aneh&#8217; di buku anaknya. Kalimat itu kurang lebih begini,   &#8230;&#8230; &#8221;Aku mencintaimu. Nanti kita mandi bareng, baru ciuman.&#8221;Sang &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendidik-anak-di-tengah-tantangan-zaman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=40&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Masalah anak dan remaja masa kini sungguh berat. Ayah dan ibu pun harus bahu-membahu. Ani, sebut saja begitu, tersentak saat menemukan kalimat &#8216;aneh&#8217; di buku anaknya. Kalimat itu kurang lebih begini, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">&#8230;&#8230; &#8221;Aku mencintaimu. Nanti kita mandi bareng, baru ciuman.&#8221;Sang buah hati masih duduk di kelas 1 SD. Wanita itu tidak membayangkan anak seusia anaknya berpikiran seperti dalam kalimat yang ditulisnya. Tak percaya dengan ungkapan dalam kalimat itu, Ani lalu bertanya, `&#8217;Ini tulisanmu, ya?&#8221;`&#8217;Ya, tapi disuruh (teman),&#8221; jawab si anak.Merasa tidak puas, Ani menyampaikannya kepada guru kelas. Sang guru mengatakan, teman anaknya itu memang suka menyuruh teman-temannya menuliskan hal-hal semacam itu. </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ani pun bertanya, `&#8217;Bagaimana saya bicara ke anak saya?&#8221; Elly Risman SPsi dan Ustadz M Ihsan Tanjung dihadirkan sebagai sumber.Kalau anak sudah menulis seperti itu, Elly Risman berpendapat, orang tua jangan lagi membuang waktu. Misalnya, menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengatasinya. Apalagi berharap penyelesaian dari guru di sekolah. `&#8217;Anak kita harus kita urus sendiri,&#8221; ucapnya. Masalahnya beratElly mengakui, masalah anak dan remaja saat ini memang berat. Orang tua sibuk dengan banyak persoalan, juga serbuan media seperti koran, majalah, televisi, video hingga internet.</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><span id="more-40"></span>Mengharapkan sekolah untuk bisa mengatasinya, pun tidak mudah. Itu, ungkapnya, karena umumnya sekolah lebih mengedepankan perkembangan otak <!-- D(["mb","kiri.Psikolog keluarga ini melihat tiga hal yang bisa terjadi dalam interaksi anak dengan media. Pertama, pengaruh media terhadap anak-anak makin besar. Teknologi makin canggih dan intensitasnya tinggi. Kedua, gaya hidup kita yang rutin dan padat. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Alhasil, orang tua tidak punya waktu cukup untuk memerhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak.Ketiga, persaingan bisnis antarmedia makin ketat sehingga cenderung mengabaikan tanggung jawab sosial, moral, dan etika, serta melanggar hak-hak konsumen. Perkembangan teknologi dan media pun bak air bah. Pada sisi lain, teknologi itu sendiri bisa membuat kecanduan karena di situ anak menemukan hal yang tidak didapatkan di dunia nyata. Teknologi juga dirasakan mengasyikkan dan kerap menjadi jalan keluar dari masalah. Peran ayahDi era sekarang ini, menurut Ihsan Tanjung, kebaikan bertaburan di mana-mana, sebagaimana juga kejahatan bertaburan di mana-mana.\n Karena itu, anak harus diarahkan. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Kita harus mendidik anak-anak dengan kemandirian, &#39;&#39; tuturnya.Pendidikan anak tidak hanya dilakukan oleh ibu, tapi lebih penting lagi oleh ayah. Pentingnya pendidikan anak oleh ayah juga dibenarkan oleh Elly. `&#39;Tidak semua hal bisa dilakukan oleh ibu. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ibu,&#39;&#39; katanya.Ihsan lalu mengisahkan sebuah keluarga, di mana sang ayah supersibuk bekerja. Sekali tempo, tuturnya, sang ayah tiba di rumah. Di depan pintu dia dijemput oleh anaknya yang berusia 5 tahun. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Tak dinyana, si anak bertanya, `&#39;Ayah kerja dibayar berapa sehari?&#39;&#39;Merasa lelah, si ayah tidak meladeni pertanyaan itu. Dia bahkan menyuruh anaknya enyah dari sampingnya. Tapi setelah merenungkan perlakuannya kepada anak, dia akhirnya minta maaf. Pertanyaan si anak pun dijawabnya. `&#39;Sepuluh dolar,&#39;&#39; ucapnya.Mendengar jawaban itu, si anak melompat-lompat kegirangan. Bocah itu lalu mengangkat bantal di tempat tidurnya dan mengambil uang\n simpanannya di balik bantal. Jumlahnya cukup untuk membayar gaji ayahnya bekerja sehari. `&#39;Hore, saya mau bayar waktu bapak sehari,&#39;&#39; katanya, masih dengan melompat-lompat ",1] );  //-->kiri.Psikolog keluarga ini melihat tiga hal yang bisa terjadi dalam interaksi anak dengan media. Pertama, pengaruh media terhadap anak-anak makin besar. Teknologi makin canggih dan intensitasnya tinggi. Kedua, gaya hidup kita yang rutin dan padat.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Alhasil, orang tua tidak punya waktu cukup untuk memerhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak.Ketiga, persaingan bisnis antarmedia makin ketat sehingga cenderung mengabaikan tanggung jawab sosial, moral, dan etika, serta melanggar hak-hak konsumen. Perkembangan teknologi dan media pun bak air bah. Pada sisi lain, teknologi itu sendiri bisa membuat kecanduan karena di situ anak menemukan hal yang tidak didapatkan di dunia nyata. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Teknologi juga dirasakan mengasyikkan dan kerap menjadi jalan keluar dari masalah. Peran ayahDi era sekarang ini, menurut Ihsan Tanjung, kebaikan bertaburan di mana-mana, sebagaimana juga kejahatan bertaburan di mana-mana. Karena itu, anak harus diarahkan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">&#8220;Kita harus mendidik anak-anak dengan kemandirian, &#8221; tuturnya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pendidikan anak tidak hanya dilakukan oleh ibu, tapi lebih penting lagi oleh ayah. Pentingnya pendidikan anak oleh ayah juga dibenarkan oleh Elly. `&#8217;Tidak semua hal bisa dilakukan oleh ibu. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ibu,&#8221; katanya.Ihsan lalu mengisahkan sebuah keluarga, di mana sang ayah supersibuk bekerja. Sekali tempo, tuturnya, sang ayah tiba di rumah. Di depan pintu dia dijemput oleh anaknya yang berusia 5 tahun.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tak dinyana, si anak bertanya, `&#8217;Ayah kerja dibayar berapa sehari?&#8221;Merasa lelah, si ayah tidak meladeni pertanyaan itu. Dia bahkan menyuruh anaknya enyah dari sampingnya. Tapi setelah merenungkan perlakuannya kepada anak, dia akhirnya minta maaf. Pertanyaan si anak pun dijawabnya. `&#8217;Sepuluh dolar,&#8221; ucapnya.Mendengar jawaban itu, si anak melompat-lompat kegirangan. Bocah itu lalu mengangkat bantal di tempat tidurnya dan mengambil uang simpanannya di balik bantal. Jumlahnya cukup untuk membayar gaji ayahnya bekerja sehari. `&#8217;Hore, saya mau bayar waktu bapak sehari,&#8221; katanya, masih dengan melompat-lompat <!-- D(["mb","kegirangan.Menurut Ihsan, sedikitnya tiga tahap pendidikan anak dalam Islam. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Pertama tahap bermain, dimulai dari usia 0 sampai \u003c/font\&amp;gt;\u003c/font\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;kira-kira\u003c/span\&amp;gt; 7 tahun. Kedua tahap penanaman adab atau disiplin, dari 7 - 14 tahun. Ketiga tahap persahabatan, yakni saat anak berusia 14 tahun ke atas. Tahap yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai remaja. Di usia seperti ini, mereka perlu didekati dengan pendekatan dan menjadikan anak sebagai sahabat.Secara garis besar, jelas Ihsan, ada 5 macam metode pendidikan dalam Islam. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Yakni, melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat atau pengarahan, melalui mekanisme kontrol, dan melalui hukuman sebagai pengamanan terhadap hasil-hasil proses\n pendidikan tersebut. Dari kelima metode tersebut, yang paling penting adalah keteladanan meskipun tidak boleh meninggalkan satu pun dari lima metode tersebut.\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Komunikasi\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Bagaimana mengatasi keadaan anak yang sudah telanjur `melangkah&#39; melebihi batas usianya, seperti yang dilakukan oleh anak kelas 1 SD tadi? Elly menyarankan satu langkah: lakukan komunikasi dengan anak. Orang tua, katanya, harus memperbaiki komunikasi, berbicara dengan baik-baik. Nada bicara usahakan rendah, berbicara dengan lemah lembut supaya anak menjadi lembut hatinya. Ceritakan masalah yang dihadapi orang lain untuk menangkap perasaannya. Saat bicara dengan anak, hadapi tidak dengan berhadap-hadapan laiknya seorang penyidik menghadapi seorang tertuduh.Komunikasi dengan anak, menurut Elly, adalah cara yang baik untuk memproteksi anak supaya lebih aman di luar rumah. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Dia lantas mengungkap banyak hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya komunikasi dengan anak. `&#39;Anak-anak yang\n bicara dengan orang tua lebih banyak, lebih punya ketahanan di luar,&#39;&#39; dia mengutip hasil sebuah penelitian itu.Nah, untuk mendidik anak yang dinilai sudah `melangkah jauh&#39;, menurut Elly, hal yang perlu dilakukan adalah membuat daftar yang ingin diperbaiki untuk dibicarakan dengan anak. Buat prioritas mana yang lebih dulu dibicarakan dengan anak dan tentukan siapa yang bicara kepada anak, ibu atau ayah. ",1] );  //-->kegirangan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Menurut Ihsan, sedikitnya tiga tahap pendidikan anak dalam Islam.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Pertama tahap bermain, dimulai dari usia 0 sampai </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">kira-kira 7 tahun. Kedua tahap penanaman adab atau disiplin, dari 7 &#8211; 14 tahun. Ketiga tahap persahabatan, yakni saat anak berusia 14 tahun ke atas. Tahap yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai remaja. Di usia seperti ini, mereka perlu didekati dengan pendekatan dan menjadikan anak sebagai sahabat.Secara garis besar, jelas Ihsan, ada 5 macam metode pendidikan dalam Islam.Yakni, melalui keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat atau pengarahan, melalui mekanisme kontrol, dan melalui hukuman sebagai pengamanan terhadap hasil-hasil proses pendidikan tersebut. Dari kelima metode tersebut, yang paling penting adalah keteladanan meskipun tidak boleh meninggalkan satu pun dari lima metode tersebut. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><u>Komunikasi</u></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bagaimana mengatasi keadaan anak yang sudah telanjur `melangkah&#8217; melebihi batas usianya, seperti yang dilakukan oleh anak kelas 1 SD tadi? Elly menyarankan satu langkah: lakukan komunikasi dengan anak. Orang tua, katanya, harus memperbaiki komunikasi, berbicara dengan baik-baik. Nada bicara usahakan rendah, berbicara dengan lemah lembut supaya anak menjadi lembut hatinya. Ceritakan masalah yang dihadapi orang lain untuk menangkap perasaannya. Saat bicara dengan anak, hadapi tidak dengan berhadap-hadapan laiknya seorang penyidik menghadapi seorang tertuduh.Komunikasi dengan anak, menurut Elly, adalah cara yang baik untuk memproteksi anak supaya lebih aman di luar rumah.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Dia lantas mengungkap banyak hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya komunikasi dengan anak. `&#8217;Anak-anak yang bicara dengan orang tua lebih banyak, lebih punya ketahanan di luar,&#8221; dia mengutip hasil sebuah penelitian itu.Nah, untuk mendidik anak yang dinilai sudah `melangkah jauh&#8217;, menurut Elly, hal yang perlu dilakukan adalah membuat daftar yang ingin diperbaiki untuk dibicarakan dengan anak. Buat prioritas mana yang lebih dulu dibicarakan dengan anak dan tentukan siapa yang bicara kepada anak, ibu atau ayah. </span><!-- D(["mb","\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;&quot;Jangan sekaligus dibicarakan, &#39;&#39; tuturnya. Memang Berat, Tapi Jangan MenyerahJangan pernah menyerah menghadapi masalah anak. Begitu pesan psikolog dari Yayasan \u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;Kita\u003c/span\&amp;gt; dan Buah Hati, Elly Risman. Ibu tiga anak ini memberikan sejumlah kiat untuk mengatasi beratnya masalah anak dan remaja saat ini. \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Untuk anak, Elly menyarankan orang tua untuk memberikan kondisi sebagai berikut:\u003cbr\&amp;gt;- Fondasi agama, baik pemahaman maupun praktik.\u003cbr\&amp;gt;- Komunikasi terbuka dan\n hangat.\u003cbr\&amp;gt;- Mempersiapkan anak sesuai dengan usia.\u003cbr\&amp;gt;- Mengenalkan TV, game, telepon genggam, internet, dan teknologi secara seimbang. Anak diajak mengenali dampak positif dan negatifnya.\u003cbr\&amp;gt;- Membicarakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Beri tahu \u003cspan style\u003d\"border-bottom:#0066cc 1px dashed\"\&amp;gt;pula\u003c/span\&amp;gt; bagaimana caranya secara konkret.\u003cbr\&amp;gt;- Melakukan kontrol yang tidak menyakitkan harga diri si anak.\u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;Untuk orang tua, Elly menyarankan melakukan beberapa hal yang bisa memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua.\u003cbr\&amp;gt;- Sering-sering melihat ke dalam diri (introspeksi) . Tingkatkan kesadaran, tentukan prioritas.\u003cbr\&amp;gt;- Ubah cara pandang dalam pengasuhan.\u003cbr\&amp;gt;- Perbaiki konsep diri dan komunikasi.\u003cbr\&amp;gt;- Lebih sigap dan antisipatif.\u003cbr\&amp;gt;- Kejar ketinggalan.\u003cbr\&amp;gt;- Bangun kerja sama dalam keluarga dengan 3 C (concern, committed, concictency/ kepedulian, komitmen, dan konsisten). \u003cbr\&amp;gt;\u003c/font\&amp;gt;\u003c/div\&amp;gt;  \u003cdiv\&amp;gt;\u003cfont face\u003d\"Times\" size\u003d\"3\"\&amp;gt;\u003c/font\&amp;gt; \u003c/div\&amp;gt;  \u003cdiv\&amp;gt;\u003cfont face\u003d\"Times\" size\u003d\"3\"\&amp;gt;Mendurhakai Anak \u003cbr\&amp;gt;Oleh : Mohammad Fauzil Adhim \u003cbr\&amp;gt;\u003cbr\&amp;gt;[ \u003c/font\&amp;gt;\u003ca href\u003d\"http://usahamulia.net/\" rel\u003d\"nofollow\" target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\&amp;gt;\u003cspan\&amp;gt;\u003cfont face\u003d\"Times\" color\u003d\"#003399\" size\u003d\"3\"\&amp;gt;\u003cspan style\u003d\"background:none transparent scroll repeat 0% 0%\"\&amp;gt;usahamulia.net\u003c/span\&amp;gt;\u003c/font\&amp;gt;\u003c/span\&amp;gt;\u003c/a\&amp;gt;\u003cfont face\u003d\"Times\" size\u003d\"3\"\&amp;gt; ] Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. ",1] );  //--><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">&#8220;Jangan sekaligus dibicarakan, &#8221; tuturnya. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"><u>Memang Berat, Tapi Jangan Menyerah</u></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Jangan pernah menyerah menghadapi masalah anak. Begitu pesan psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman. Ibu tiga anak ini memberikan sejumlah kiat untuk mengatasi beratnya masalah anak dan remaja saat ini.</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Untuk anak, Elly menyarankan orang tua untuk memberikan kondisi sebagai berikut:</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Fondasi agama, baik pemahaman maupun praktik.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Komunikasi terbuka dan hangat.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mempersiapkan anak sesuai dengan usia.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Mengenalkan TV, game, telepon genggam, internet, dan teknologi secara seimbang. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Anak diajak mengenali dampak positif dan negatifnya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Membicarakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Beri tahu pula bagaimana caranya secara konkret.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Melakukan kontrol yang tidak menyakitkan harga diri si anak.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Untuk orang tua, Elly menyarankan melakukan beberapa hal yang bisa memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Sering-sering melihat ke dalam diri (introspeksi) . </span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Tingkatkan kesadaran, tentukan prioritas.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Ubah cara pandang dalam pengasuhan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Perbaiki konsep diri dan komunikasi.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Lebih sigap dan antisipatif.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Kejar ketinggalan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>-<span style="font:7pt 'Times New Roman';">        </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;">Bangun kerja sama dalam keluarga dengan 3C (concern, committed, concictency/ kepedulian, komitmen, dan konsisten).</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;">Sumber: www.keluargasehat.com</span><span style="font-size:11pt;font-family:Georgia;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=40&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/05/03/mendidik-anak-di-tengah-tantangan-zaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae04ba8976d8643d07749f45d1526328?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muraza</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seks Bebas Remaja Indonesia Merajalela</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/04/11/seks-bebas-remaja-indonesia-merajalela/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/04/11/seks-bebas-remaja-indonesia-merajalela/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 12:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/04/11/seks-bebas-remaja-indonesia-merajalela/</guid>
		<description><![CDATA[Orangtua mana yang tak bergidik mengetahui data tentang perilaku seks bebas remaja Indonesia masa kini dibawah ini. Seks bebas sungguh telah menjadi hal biasa! Bagaimana cara menangkalnya? Penelitian di pelbagai negara menemukan bahwa anak remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/04/11/seks-bebas-remaja-indonesia-merajalela/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=37&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orangtua mana yang tak bergidik mengetahui data tentang perilaku seks bebas remaja Indonesia masa kini dibawah ini. Seks bebas sungguh telah menjadi hal biasa! Bagaimana cara menangkalnya? Penelitian di pelbagai negara menemukan bahwa anak remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan seks bebas, jika mereka dapat membicarakan masalah seks dengan orang tuan. Artinya, orang tua harus menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anaknya! Telah siapkah kita, para orangtua menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anak kita? Bagaimana meluweskan lidah kita agar tak kelu ketika harus bicara saru dengan anak-anak kita?</p>
<p>Temukan jawabnya dalam acara workhsop Salamaa 1-3 Juni 2007.</p>
<p>Dan untuk mengetahui data lebih lengkap tentang perilaku seks bebas remaja masa kini, silahkan simak artikel di bawah ini.</p>
<p><span id="more-37"></span>Pergaulan Bebas<br />
Asro Kamal Rokan</p>
<p>KH Abdul Rasyid Abdullah Safii terlihat resah sekali. Pemimpin Yayasan Perguruan Islam As-Syafi&#8217;iyah ini memberikan beberapa lembar kliping koran. &#8221;Tolong baca ini. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada bangsa ini,&#8221; katanya singkat. Kiai Rasyid tak banyak bicara, namun raut wajahnya memperlihatkan betapa ia risau betul atas pemberitaan media massa itu.</p>
<p>Fotokopi kliping berbagai media itu, ketika saya baca, memang sangat merisaukan. Media Indonesia (6/1) mengutip Kantor Berita Antara menulis, &#8221;85 Persen Remaja 15 Tahun Berhubungan Seks&#8221;. Warta Kota (11/2) memberi judul, &#8221;Separo Siswa Cianjur Ngesek&#8221;. Kemudian, Harian Republika terbitan 1 Maret 2007 menulis, &#8221;Penyakit Menular Seksual Ancam Siapa Pun&#8221;. Dalam berita itu ditulis pula, &#8221;Hampir 50 persen remaja perempuan Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah.&#8221;</p>
<p>Berita di Republika mengutip hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Survei dilakukan pada 2003 di lima kota, di antaranya Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Hasil survei PKBI, yang juga dikutip Media Indonesia, menyatakan pula bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka. Penelitian pada 2005 itu dilakukan terhadap2.488 responden di Tasikmalaya, Cirebon, Singkawang, Palembang, dan Kupang.</p>
<p>Ironisnya, menurut Direktur Eksekutif PKBI, Inne Silviane, hubungan seks itu dilakukan di rumah sendiri &#8211;rumah tempat mereka berlindung. Sebanyak 50 persen dari remaja itu mengaku menonton media pornografi, di antaranya VCD. Dari penelitian itu pula diketahui, 52 persen yang memahami bagaimana kehamilan bisa terjadi.</p>
<p>Penelitian lain dilakukan Annisa Foundation, seperti dikutip Warta Kota. Diberitakan, 42,3 persen pelajar SMP dan SMA di Cianjur telah melakukan hubungan seksual. Menurut pengakuan mereka, hubungan seks itu dilakukan suka sama suka, dan bahkan ada yang berganti-ganti pasangan. Penelitian ini dilakukan Annisa Foundation (AF) pada Juli-Desember 2006 terhadap 412 responden, yang berasal dari 13 SMP dan SMA negeri serta swasta.</p>
<p>Laila Sukmadewi, Direktur Eksekutif AF, mengatakan hubungan seks di luar nikah itu umumnya dilakukan responden karena suka sama suka. Hanya sekitar 9 persen dengan alasan ekonomi. &#8221;Jadi, bukan alasan ekonomi. Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 90 persen menyatakan paham nilai-nilai agama, dan mereka tahu itu dosa,&#8221; ujar Laila. Dijelaskan, sebagian besar mereka menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas, sebanyak 12 persen menggunakan metode coitus interuptus.</p>
<p>Fakta-fakta itu telah menjelaskan kerisauan KH Rasyid. Ia berujar dalam nada getir, &#8221;Bencana yang terus menimpa bangsa ini dapat diperbaiki, namun bencana akibat rusaknya moral, bagaimana memperbaikinya?&#8221; Tidak hanya KH Rasyid, siapa pun yang peduli terhadap bangsa ini, tentu menarik napas dalam-dalam. Betapa pilu, para remaja itu paham pada ajaran agama, paham dosa, dan akibat yang ditimbulkannya. Pasti ada yang salah terhadap bangsa ini.</p>
<p>Tayangan televisi, media-media berbau porno, semakin mendekatkan para remaja itu melakukan hubungan seks di luar nikah. VCD dan DVD porno begitu mudah diperoleh hanya dengan Rp 5.000. Sekali dirazia, setelah itu bebas lagi diperjualbelikan. Sistem pendidikan yang mengejar angka-angka pun memberi andil kerusakan generasi muda itu.</p>
<p>Hasil survei itu semestinya menyadarkan kita, para pendidik, orang tua, ulama, pengelola televisi, media massa, dan tentu juga pemerintah. Angka-angka yang terungkap itu, boleh jadi puncak gunung es. Setelah ini, apakah kita membiarkan bencana moral itu terus berlangsung &#8211;yang nauzubillahdapat saja menimpa keluarga kita?<br />
Ya Allah, ini bencana yang nyata dan sangat menakutkan &#8230;.</p>
<p>Sumber: Republika</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=37&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/04/11/seks-bebas-remaja-indonesia-merajalela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah: Seorang Bapak dan Akuntan yang Peduli terhadap Pengasuhan Anak</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/25/kisah-seorang-bapak-dan-akuntan-yang-peduli-terhadap-pengasuhan-anak/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/25/kisah-seorang-bapak-dan-akuntan-yang-peduli-terhadap-pengasuhan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2007 09:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/25/kisah-seorang-bapak-dan-akuntan-yang-peduli-terhadap-pengasuhan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah tanggung jawab pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu? Tapi bukankah anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. &#8220;&#8216;Bikin&#8217;nya sama-sama, tanggung jawabnya juga sama-sama dong&#8230;,&#8221; begitu kan kasarnya Kisah dibawah ini merupakan contoh seorang bapak yang walaupun sibuk tetap peduli &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/25/kisah-seorang-bapak-dan-akuntan-yang-peduli-terhadap-pengasuhan-anak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=15&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah tanggung jawab pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu? Tapi bukankah anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. &#8220;&#8216;Bikin&#8217;nya sama-sama, tanggung jawabnya juga sama-sama dong&#8230;,&#8221; begitu kan kasarnya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kisah dibawah ini merupakan contoh seorang bapak yang walaupun sibuk tetap peduli terhadap pengasuhan anak-anaknya. Mengapa? Karena menjadi orangtua itu tidak gampang dan perlu ilmu. Karena untuk menciptakan generasi yang lebih baik, butuh orangtua yang peduli, bukan hanya ibu tapi juga bapak. Berdua, ibu dan bapak, ber&#8217;tanggo&#8217;bersama dalam mengasuh buah hatinya. Ah..alangkah indahnya. TentuTuhan pun akan tersenyum disana melihat amanahnya dijaga.</p>
<p>Berikut cerita lengkapnya..</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><font color="#ff0000"><font size="3">Tubagus Sofiuddin,             S.E., M.M. Ak.</font><br />
<font size="5">Akuntan yang Peduli terhadap Pengasuhan Anak</font></font></font></p>
<blockquote><p> <font face="Times New Roman"><font size="4">              </font></font><font face="Times New Roman"><em><font size="3">ANAK bisa diibaratkan kertas putih yang masih kosong. Apa yang               dituliskan di atasnya, itulah yang akan membentuk pribadi seorang anak. Jika yang               &#8220;dituliskannya&#8221; yang baik-baik, maka anak akan menjadi baik, dan sebaliknya.               Karenanya pendidikan dan pengasuhan orang tua sangatlah menentukan dalam membentuk pribadi               seorang anak. Hal inilah yang menjadi perhatian Tubagus Sofiuddin, S.E., M.M. Ak. dalam               konsep &#8220;parrenting&#8221;-nya. Ia ingin para orang tua, khususnya orang tua muda,               mengetahui bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik.</font></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><font size="4">            </font></font></p></blockquote>
<p><font face="Times New Roman"><font size="4">            </font></font><font face="Times New Roman">&#8220;ITU ada ilmunya <em>lho</em>! Banyak orang tua yang tidak tahu bagaimana             mengasuh dan mendidik anak yang baik, sehingga sering salah dalam memperlakukan anaknya.             Saya sendiri bukan ahli atau pakar dalam masalah ini, tetapi saya ingin memberikan             kontribusi dalam memperbaiki generasi mendatang, &#8221; ujar pria kelahiran Jakarta 12             Oktober 1968 ini.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Sebenarnya kesibukan ayah dari Ratu Alifa Nurfira (5) dan Tubagus Baraka Kautsar (2)             ini sudah cukup padat. Karena selain menjadi Staf Direktorat Jendral Pajak di Kanwil Pajak             Jawa Barat, Cibeunying ia juga menjadi dosen di beberapa tempat. Antara lain di Program             Magister Manajemen (M.M) Unpad, Program Magister Akutansi (Maksi) Universitas Muhammadiyah             Jakarta serta mengajar di Diklat Perpajakan BPLK Depkeu Cimahi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Belum lagi aktivitasnya di berbagai organisasi seperti menjadi pengurus di Yayasan Kita             dan Buah Hati, anggota Mark Plus Bandung dan lain-lain. Lelaki yang akrab dipanggil Ofi             ini juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah tabloid bisnis di Bandung. Bahkan             saat ini suami dari Ratih Irawaty Abidin, S.E., Ak. ini tengah menyelesaikan Program             Doktor Manajemen Bisnis (DMB) di Unpad.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Akan tetapi kesibukannya itu tidak membuat Ofi jauh dari keluarga. &#8220;Sesibuk apapun             kita, kalau mau sebenarnya kita bisa menyisihkan waktu untuk keluarga. Saya beranggapan             selain kualitas, kuantitas pertemuan dengan keluarga juga sangatlah penting sehingga             komunikasi tidak akan terputus,&#8221; tuturnya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ucapan itu memang bukan hanya di mulut, itu terbukti ketika <em>ngobrol</em> dengan             &#8220;Hikmah&#8221; Ofi dengan senang hati kerap menanggapi pertanyaan putranya bahkan             bercanda atau menyuapi anak bungsunya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ofi prihatin jika seorang anak <em>curhat</em>-nya tidak kepada orang tuanya. Itu             menandakan komunikasi di antara mereka (anak dengan orang tua-Red) tidak terjalin dengan             baik. Padahal akan sangat berbahaya jika anak <em>curhat</em> kepada orang lain, karena             kapasitas orang yang dijadikan tempat &#8220;<em>curhat</em>&#8221; anak belum tentu memadai             sehingga anak bisa saja menerima informasi yang salah. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Menurut Ofi orang tua harusnya bisa menyelami jiwa sang anak sehingga bisa menjadi             teman bagi si anak. Anak pun tidak akan ragu-ragu untuk <em>curat</em> kepada orang tuanya.             &#8220;Misalnya saja, meski sang ayah seorang direktur, tetapi jika anaknya minta tolong             agar sepedanya diperbaiki, sang ayah hendaknya turun langsung untuk menolongnya. Jangan             mentang-mentang direktur, ia menyuruh orang lain utuk memperbaiki sepeda anaknya yang             mungkin kerusakannya juga tidak seberapa&#8221;. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Jika anak masih berusia antara 1-12 tahun, lanjut Ofi, maka teknik pendidikan orang tua             kepada anaknya bisa menggunakan cara &#8220;4B&#8221;, Bermain, Belajar, Bernyanyi dan             Bercerita. Orang tua bisa menanamkan pendidikan tanpa membuat anak merasa sedang dididik.             Misalnya ketika anak mengatakan tidak bisa ketika ia belum mencoba mengerjakannya, maka             orang tua dapat menyanyikan lagu &#8220;Kamu Pasti Bisa&#8221;. Lagu itu mendorong anak             untuk mencoba melakukan sesuatu, sebelum berkata tidak bisa, sehingga dengan suasana             santai anak jadi terdorong atau termotivasi untuk melakukannya. Atau bisa juga dengan             memanfaatkan momen yang sedang digandrungi anak-anak saat ini. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">&#8220;Misalnya saja anak saya <em>kan</em> suka kepada Haikal AFI (Akademi Fantasi             Indosiar-Red), maka jika mengajak bermain anak saya itu, saya akan meniru gaya Haikal             dalam berpakaian maupun cara bernyanyi. Teryata anak saya suka dan mau mendengarkan             kata-kata saya yang diucapkan melalui nyanyian,&#8221; ucap Ofi sambil tertawa.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ofi tertarik terhadap masalah pengasuhan anak setelah sering mengikuti kegiatan Club             Buah Hati, Yayasan Kita dan Buah Hati yang dikelola Neno Warisman dan Eli Risman di             Jakarta. Bahkan saat masih kuliah Ofi kerap mengikuti pelatihan atau ceramah sekitar             pendidikan keluarga.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">&#8220;Terus terang saya tidak sempat pacaran, makanya ketika saya &#8216;bertemu&#8217; dengan             ibunya anak-anak, saya langsung mengajaknya menikah. Karena itu tadi saya sudah sering             menerima ceramah-ceramah pendidikan tentang bagaimana seharusnya hidup berkeluarga,&#8221;             ujar Ofi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Bersama sang istri, Ofi mencoba mengembangkan Yayasan Kita dan Buah Hati di Bandung. Di             antaranya dengan mengadakan seminar dan diskusi di antara para orang tua murid. Di Kota             Bandung upayanya itu memang belum begitu bergema. Banyak hambatannya, terutama masyarakat             masih belum merasa membutuhkannya. Bahkan tak jarang meski pria ini sudah mengupayakan             fasilitas untuk sosialisasi program <em>parrenting</em>, tetapi respons masyarakat belum             begitu memuaskan. Kendati demikian Ofi optimis jika terus diupayakan program dan konsep             &#8220;parrenting&#8221; bisa dimasyarakatkan, khususnya di Kota Bandung dan sekitarnya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">&#8220;Saya teringat akan kata-kata ibu saya yang mengatakan mengurus sesuatu yang baik             itu memang tidak mudah dan banyak hambatannya, hasilnya pun belum tentu memuaskan. Kata             ibu saya, jika ingin untung sih gampang jualan karcis saja di bioskop pasti laku karena             orang senang dan untungnya segera didapatkan. Kata-kata ibu saya itu melekat di benak saya             sehingga insya Allah saya tidak akan pernah putus asa dalam mengupayakan kebaikan,&#8221;             tandas Ofi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Padahal, lanjutnya, jika para orang tua mendidik anak dengan baik, itu adalah             kewajibannya bahkan demi kebutuhannya juga kelak di kemudian hari. &#8220;Misalnya saya             menyuapi anak dengan harapan anak sayalah nanti yang akan menyuapi saya ketika saya sakit.             Saya memandikan dan memakaikan baju anak dengan harapan anak sayalah yang nantinya             memandikan dan mengkafani saya ketika saya meninggal. Saya juga mengajarkan anak saya             salat dengan harapan anak saya akan mendoakan saya. Semua itu <em>kan</em> bekal kita dan             anak kita. Juga agar anak juga bermanfaat bagi lingkungannya,&#8221; papar Ofi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font></p>
<p align="center"><font face="Times New Roman">**</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">KETERTARIKAN Ofi terhadap pengasuhan anak, tidak lepas dari peran pendidikan orang             tuanya. Ayahnya, Tubagus Rafiuddin, yang seorang <em>qori</em> (pembaca Alquran) merupakan             figur yang sangat keras dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Sebaliknya, sang ibu, Nadratul             Uyun merupakan figur yang penuh kelembutan sehingga jika anak-anaknya merasa kecewa, baik             oleh hal-hal di luar keluarga maupun dari dalam keluarga, ibu akan menjadi tempat &#8220;<em>curhat</em>&#8221;             dan penyejuk bagi anak-anaknya. Sehingga orang tua Ofi bisa dikatakan saling melengkapi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Pendidikan yang ditanamkan orang tua Ofi, memang bisa dikatakan berhasil mengantarkan             anak-anaknya menjadi &#8220;orang&#8221;. Namun Ofi tetap tidak setuju dengan cara disiplin             keras yang ditanamkan ayahnya. &#8220;Ini merupakan kritik terhadap ayah saya, juga para             orang tua yang terbiasa menanamkan disiplin dengan keras terhadap anaknya. Cara keras             tidak mmebuat anak dekat dengan orang tua malah bisa-bisa anak lari dari rumah. Itu saya             pernah alami, tetapi untunglah ibu bisa menyejukan kembali hati saya sehingga saya pun             bisa <em>curhat </em>kepadanya,&#8221; papar anak ke lima dari sembilan bersaudara ini.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Kendati demikian ada satu pesan ayahnya yang membekas di benaknya. &#8220;Ayah saya             berpesan agar anak-anaknya jangan bangga karena orang tua. Misalnya dengan melontarkan             kalimat <em>lihat babe gue</em>, tapi seharusnya yang dibanggakan itu ada di diri sendiri             sehingga yang terucap ini <em>lho </em>saya. Orang tua boleh kaya, tapi <em>kan</em> itu orang             tua bukan saya. Dari pesan itu juga tersirat agar kita tidak membeda-bedakan derajat             manusia. Karenanya saya pun mengajarkan kepada anak agar jangan terlalu melihat kulit.             Kemasan memang perlu tapi itu bukan substansi&#8221;. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Ayahnya juga sering menceritakan tentang sepak terjang dan kepahlawanan seseorang.             Sehingga di benak Ofi tertanam bahwa orang yang mempunyai ilmu itu punya makom (tempat)             khusus dan terhormat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Disiplin yang keras di perguruan tinggi juga ikut membentuk pribadi Ofi. Selepas SMA di             Jakarta, Ofi ingin meringankan beban orang tua dengan memilih sekolah yang punya ikatan             dinas, sehingga pada 1992 ia memilih pendidikan program diploma pajak STAN, lembaga             pendidikan yang berada di bawah naungan Departeman Keuangan RI. Sekolah ini terkenal             dengan kedisiplinannya yang keras, para mahasiswa dituntut belajar keras karena jika tidak             memenuhi standar maka langsung di DO. &#8220;Bahkan ada anekdot, doa anak STAN itu pendek             saja, dia bukan ingin jadi kaya tetapi agar lulus dari tingkat satu ke tingkat dua, dari             tingkat dua ke tingkat tiga dan seterusnya,&#8221; papar Ofi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">            </font><font face="Times New Roman">Kebiasaan disiplin seperti itu terbawa hingga ke jenjang pendidikan berikutnya, S1 di             Akutansi Unpad (1998), S2 di Magister Manajemen Unpad (2002) serta S3, juga di Unpad. Etos             kerjanya semakin terpacu sejak Ofi bertemu dengan mantan Perdana Menteri Malaysia Dr.             Mahatir Muhammad yang mengatakan &#8220;Ucapan Pak Mahatir selalu saya ingat. Ia mengatakan             &#8216;bangsa Melayu sering dikatakan bangsa yang malas. Padahal itu tidak benar. Bangsa Melayu             adalah bangsa yang rajin tetapi tidak tekun sehingga sering menunda-nunda pekerjaan&#8217;.             Harus kita akui bekerja keras dan ketekunan adalah kunci kesuksesan,&#8221; papar Ofi.***</font></p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/18/hikmah/lainnya04.htm</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=15&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/25/kisah-seorang-bapak-dan-akuntan-yang-peduli-terhadap-pengasuhan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>100x lebih mudah mendidik anak di luar negeri!</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/1000x-lebih-mudah-mendidik-anak-di-luar-negeri/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/1000x-lebih-mudah-mendidik-anak-di-luar-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2007 21:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/1000x-lebih-mudah-mendidik-anak-di-luar-negeri/</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum&#8230; Dear all&#8230;masih inget diskusi kita dulu soal lebih baik dimana membesarkan anak, di Indonesia atau di luar negeri? Kalo nggak salah beberapa minggu yang lalu mbak dessy jg posting ulang hasil diskusinya. Kesimpulannya saat itu dikembalikan pada pilihan masing-masing &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/1000x-lebih-mudah-mendidik-anak-di-luar-negeri/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=10&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum&#8230;</p>
<p>Dear all&#8230;masih inget diskusi kita dulu soal lebih baik dimana membesarkan anak, di Indonesia atau di luar negeri? Kalo nggak salah beberapa minggu yang lalu mbak dessy jg posting ulang hasil diskusinya. Kesimpulannya saat itu dikembalikan pada pilihan masing-masing kan. Naa tadi, saya  kontak bu Elly Risman lagi (koordinasi soal kedatangan beliau kemari). Kami sempat ngobrol-ngobrol dan akhirnya sampe pada pertanyaan di atas. Dan ternyata jawaban beliau betul-betul membuat saya kaget. Percakapan dibawah ini ga persis-persis amat seperti tadi, tapi intinya kira-kira begini&#8230;</p>
<p><span id="more-10"></span></p>
<p>Bu E (Bu Elly) : Boleh ibu cerita sedikit Nak. Gini, Ibu tergabung dalam aliansi pendidikan &#8230;(maaf memoriku agak-agak payah nih hehe). Dan di dalamnya ada juga berkumpul ahli-ahli IT. Ibu sendiri sampai kaget mendengarnya. Mereka bilang, anak-anak sekarang itu sangat mudah sekali dirusak oleh teknologi, dan saat ini (di Indonesia) terutama melalui Hp (handphone)!<br />
A (Agnes): Oya, kenapa gitu Bu?<br />
Bu E : Coba sekarang bayangkan Agnes, gadis-gadis SMA berani-beraninya (maaf) beramai-ramai bertelanjang bulat dan bergaya seperti gadis-gadis iklan lux yang di TV , lalu  direkam di Hp dan dikirimkan ke teman-temannya!<br />
A: Oya bu?<br />
Bu E : Bukan itu saja, ada jg gambar anak remaja putri membuka semua bajunya di deket tangga, terus  menyodorkan dirinya ke pasangannya dengan langsung (maaf lagi nih)nungging. Dan si remaja cowo pasangannya itu pun dengan santainya membuka celananya dan langsung &#8216;ngerjain&#8217; itu anak perempuan. Dan itu pun direkam di Hp dan disebar-sebarkan pula!<br />
A : Glek! *nelen ludah* separah itu Bu? Perasaan disini ga gitu-gitu amat deh Bu.<br />
Bu E : Karena itu lah ibu bilang, membesarkan anak di luar negeri jauuh..jauh lebih mudah daripada di Indonesia!<br />
A: Wah! Oya bu?! *Surprise*<br />
Bu E : Iya! Berkali-kali lipat jauhnya! Anak-anak sekarang itu di Indonesia, di serang dari segala penjuru! Mau mengharapkan pemerintah? Nggak bisa! Ngurusi lapindo aja nggak beres-beres, sibuk mereka ngurusin bencana.<br />
A: Mmm&#8230;iya juga bu ya.<br />
Bu E : Saudara-saudara ibu nih (atau teman ya? lupa juga maaf <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> ), malah ibu suruh-suruh  pada cari beasiswa keluar negeri!<br />
A: Haa? Sampe segitunya Bu? *Bingung, Penasaran, dll*</p>
<p>Tapi sayang, setelah itu Hp si ibu berdering, dan pembicaraan pun terhenti.</p>
<p>Saya yakin, tentu tidak semua sepakat dengan pendapat bu Ely. Dan tentu saja, setiap orang punya destiny masing-masing. Tidak semua orang bisa tinggal terus menerus di LN. Tidak semua orang pula bisa berkesempatan tinggal di LN. Lagipula, entah di LN atau di Indonesia, bagaimana pun semua berpulang kepada bagaimana orangtua mengasuhnya. Tapi setidaknya Bu Elly pasti punya alasan kenapa dengan sangat yakinnya beliau menjawab seperti itu. Apalagi beliau telah merasakan sendiri bagaimana mengasuh anak di LN (Amerika) dan bagaimana pula mengasuh anak di Indonesia saat membesarkan anak-anaknya.</p>
<p>Kondisi seperti apa sebetulnya yang sedang terjadi di Indonesia? Anak-anak itu diserang dari segala penjuru, maksudnya apa ya? Mengapa menurut beliau membesarkan anak di LN jauh lebih mudah daripada di Indonesia? Apa yang harus kita lakukan? Tidak semua orang bisa terus menetap di LN, bagi yang akan pulang ke Indonesia, bagaimana caranya agar tetap bisa membesarkan anak dengan &#8216;sehat&#8217; di Indonesia?</p>
<p>Penasaran kan ? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Soo&#8230;jangan lewatkan pelatihan dengan bu Elly tanggal 1-3 Juni 2007 nanti yaa&#8230;.<br />
Catat tanggalnya, lingkari dengan spidol merah dan segera daftar bila pendaftaran telah dibuka&#8230;!</p>
<p>Salam penasaran <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=10&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/1000x-lebih-mudah-mendidik-anak-di-luar-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Elly Risman: “Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua”</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/elly-risman-%e2%80%9cbanyak-orangtua-yang-tak-siap-jadi-orangtua%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/elly-risman-%e2%80%9cbanyak-orangtua-yang-tak-siap-jadi-orangtua%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2007 21:44:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dari Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/elly-risman-%e2%80%9cbanyak-orangtua-yang-tak-siap-jadi-orangtua%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 29 September 2006 Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat. Majalah Hidayatullah edisi &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/elly-risman-%e2%80%9cbanyak-orangtua-yang-tak-siap-jadi-orangtua%e2%80%9d/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=9&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=3659&amp;Itemid=61" target="_blank">Jumat, 29 September 2006</a><br />
Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.</p>
<p>Majalah Hidayatullah edisi September 2006</p>
<p>Rubrik FIGUR</p>
<p>Tulisan 1:</p>
<p>Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.</p>
<p>Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.</p>
<p><span id="more-9"></span><br />
Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orangtua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi seorang ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara ayah si Fulan dulu mendidik  dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah-lembut,  biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara lemah-lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan,  biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara kekerasan pula. Jadi terjadi semacam pewarisan cara mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudaranya, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifannya belajar dari lingkungan sosialnya itu.</p>
<p>Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orangtua lain yang cuek, tak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan instink dan pelajaran dari orangtuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan.</p>
<p>Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang Muslimah terdidik yang membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya.<!--more--></p>
<p>Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet,  telepon seluler, dan media cetak.</p>
<p>Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.</p>
<p>Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.</p>
<p>Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.</p>
<p>Elly Risman adalah satu dari jutaan orangtua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian berketetapan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan.</p>
<p>Bersama sejumlah kawan dekatnya, antara lain Neno Warisman, Erry Sukresno, Hidayat Achyar, dan Tommy Sutomo, pada tahun 1998 Elly mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH).</p>
<p>Melalui yayasan tersebut Elly mengajak para orangtua untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang seharusnya, sehingga kualitas pengasuhan anaknya menjadi semakin baik.  Dan jika ada kekeliruan selama ini dapat diperbaiki. “Kami siap membantu orangtua yang mau berubah,” jelas wanita kelahiran Aceh Barat ini.</p>
<p>Menurutnya, selama ini orangtua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari. “Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya,” jelasnya.</p>
<p>Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. “Orangtua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang di sana juga banyak bermuatan informasi negatif,” tambahnya.</p>
<p>Kegiatan YKBH secara garis besar ditujukan untuk orangtua, remaja  dan anak-anak. Kegiatan tersebut berbentuk  workshop dan pelatihan parenting (pengasuhan dan pendidikan anak),  serta pelayanan konsultasi untuk pribadi, keluarga, pasangan dan anak-anak.</p>
<p>YKBH juga membuka program pelatihan untuk anak-anak agar siap menghadapi tantangan hidupnya yang semakin berat.  Untuk mendukung program itu, sejak tiga tahun lalu Elly merekrut 30 anak-anak muda, mahasiswa, sarjana yang baru saja lulus, dan psikolog muda. Mereka dilatih selama hampir enam bulan untuk menjadi konselor bagi rekan sebayanya dan anak-anak.</p>
<p>Jika yang menyampaikan orang muda, diharapkan komunikasi antara pelatih dan yang dilatih lebih lancar, terutama dalam membincangkan soal seksual. “Ternyata memang benar, kepada kakak pelatih yang muda-muda itu anak-anak jadi lebih terbuka mengemukakan pertanyaan dan pendapatnya,” terangnya.</p>
<p>Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul Ulum, Saiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung di kantornya, Elly memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?</p>
<p>Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami-istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?</p>
<p>“Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayangan porno dari televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan dari pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya,” papar Elly.</p>
<p>Selanjutnya Elly  berbicara panjang lebar kepada majalah Hidayatullah tentang gawatnya ancaman yang mengintai anak-anak kita, “Karena anak-anak Indonesia sekarang sudah dijadikan komoditi industri seks internasional.”</p>
<p>Lantas apa yang harus dilakukan para orangtua Indonesia? Silakan simak pendapat selanjutnya berikut ini:</p>
<p>Melihat problema yang dihadapi remaja kita saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya ya?</p>
<p>Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV.  Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.</p>
<p>Seberapa besar kesalahan orangtua menghadapi anak?</p>
<p>Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.</p>
<p>Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?</p>
<p>Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.</p>
<p>Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?</p>
<p>Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus.  Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.</p>
<p>Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka  membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.</p>
<p>Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.</p>
<p>Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?</p>
<p>Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.</p>
<p>Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.</p>
<p>Bagaimana supaya orangtua menyadari hal itu?</p>
<p>Mereka harus mau belajar menjadi orangtua yang baik. Selama ini kan berjalan alami dan turun-temurun. Mana ada sekolah bagi calon orangtua di kalangan umat kita. Padahal di kalangan Nasrani jika seseorang ingin mendapatkan ijin menikah dari gereja, syaratnya harus lulus pelatihan pernikahan selama 6 bulan. Jika tidak lulus, maka ia tidak diijinkan menikah di gereja.</p>
<p>Apakah seharusnya kita juga seperti itu?</p>
<p>Iya, kita seharusnya juga punya Islamic parenting school (sekolah Islam non formal untuk mendidik menjadi orangtua yang baik). Materinya juga sudah jelas. Islam memiliki materi yang sangat lengkap menyangkut  keluarga. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahma. Misalkan, ketika orangtua menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak, ya kita kembalikan pada agama. Prinsipnya, kalau kita tahu jangan anak disuruh belajar pada orang lain. Makanya yang namanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Jadi orangtua mesti banyak mendengar.</p>
<p>Bagaimana cara YKBH melakukan pelatihan pendidikan seks pada anak sekolah?</p>
<p>Setelah diberi pelatihan lalu disuruh membuat pertanyaan apa saja. Setelah itu dilihat mana pertanyaan dari anak yang sudah tahu seks dan yang belum. Ppada pertemuan berikutnya anak-anak yang sudah tahu dipisahkan dengan anak yang belum tahu. Tidak bisa dicampur. Istilahnya kita beri kelas khusus pada mereka yang tahu dan ingin tahu. Pada kenyataannya, memang justru kelas yang khusus itulah yang banyak diminati. Pada kelas ini, pertanyaannya sudah dahsyat-dahsyat. Anak-anak tak segan-segan menanyakan soal seks. Padahal seharusnya saya ini kan seusia dengan neneknya. Toh mereka berani.</p>
<p>Pendidikan seks bagaimana yang baik untuk anak?</p>
<p>Pendidikan seks itu ada dua, kalau terlalu terbuka seperti di Amerika juga berbahaya. Tapi, disembunyikan juga salah. Diberi informasi itulah yang penting. Jika ada pertanyaan tentang seks, orangtua harus memiliki kiat-kiatnya. Yaitu tenang, self control, dan take it easy. Yang kedua, cek pemahamannya.  Jangan-jangan si anak lebih tahu, mereka cuma ngetes. Kalau merasa kaget, katakan, “Saya tidak pernah mikir.”</p>
<p>Nah, ketiga langkah ini membuat suasana tenang, tidak reaktif dan punya kesempatan berpikir menjawab atau tidak. Poin selanjutnya, beri jawaban yang terbaik plus norma agama. Jadi, dari kecil iman dan syariah itu sudah masuk dalam diri anak-anak. Di sinilah perlunya pelatihan bagi calon orangtua dan orangtua, agar memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi anak-anaknya.</p>
<p>Tulisan 2</p>
<p>Hari Tanpa TV, Kenapa Tidak!?</p>
<p>Kecintaan Hainah Ellydar, begitu nama lengkap Elly, terhadap dunia anak-anak tidak lepas dari masa kecilnya yang begitu bahagia. Ia amat terkesan pada pendidikan orangtuanya, Muhammad Din Ilyas dan Saadah. Keduanya mendidik sesuai ajaran Islam. Semua keputusan dimusyawarahkan. Ayahnya selalu mengajak musyawarah  sebelum memutuskan sesuatu.</p>
<p>Ibunya, lain lagi. Ia  selalu mencatat perilaku anak yang perlu dibenahi tiap harinya. Tiap minggu anak dipanggil, masuk ke kamar, diberi tahu kesalahan-kesalahannya. &#8221;Ibu saya tidak pernah mempermalukan anak di depan saudara-saudaranya. Begitu pula menghadapi pembantu,&#8221; ungkap sulung dari enam bersaudara, tiga perempuan dan tiga laki-laki ini.</p>
<p>Ayahnya, meski bukan seorang ulama, namun punya cita-cita yang kuat membangun sebuah pesantren. Tiga puluh tahun bekerja keras, akhirnya ia  berhasil membeli tanah seluas 60 hektar dan 15 tahun terakhir hidupnya dihabiskan untuk membangun pesantren Subulussalam di kampungnya di Aceh Singkil.</p>
<p>Elly selalu mengenang ucapan ayahnya. &#8221;Pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Kalau kamu tidak memanusiakan orang Aceh, kapan Aceh itu bisa dibangun?&#8221; kata Elly menirukan ayahnya.</p>
<p>Elly meneladani orangtuanya dalam mengasuh anak. Tentu saja, kini ditambah lagi dengan pengetahuan yang diperolehnya. Apalagi ia pernah lama tinggal di Amerika. Waktu itu ia ikut suaminya yang mengambil gelar doktor di Amerika Serikat  tahun 1992 hingga 1998.</p>
<p>Saat pulang ke Indonesia, Elly ikut mendirikan PT Surindo Utama dan menjadi salah satu direkturnya, yaitu Direktur Riset. Dari pengalaman di lembaga tersebut, Elly kemudian memasuki dunia pendidikan keluarga. “Dari pengalaman survey di lapangan ketika bekerja di Surindo itulah saya jadi terketuk untuk menekuni bidang pendidikan masyarakat ini,” aku Elly.</p>
<p>Menurut Elly,  masa depan Indonesia saat ini tergantung pada generasi muda. Karena itu, setiap orangtua punya kewajiban menyelamatkan anak-anaknya. “Ayah-ibu mutlak bekerjasama. Mendidik anak harus dua-duanya, jangan ayahnya saja, atau ibunya saja,” jelasnya.</p>
<p>Anak bagi Elly mempunyai arti yang sangat besar. “Investasi kepada anak bagi kami sangat penting dibanding lainnya,” kata istri Risman Musa, lelaki yang menikahinya tahun 1978. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak perempuan: Rossalina Awaina (25) yang kini sudah menikah, Yuhyina Maisura (22), dan Silmi Kamila (15).</p>
<p>Dalam pendidikan anak, Elly mengaku mendapat support dari sang suami. Antara ia dan suaminya memiliki visi yang sama bagaimana mendidik anak-anak. “Alhamdulillah, anak-anak saya tidak ada yang bermasalah. Bahkan ada yang mengikuti jejak saya, sebagai psikolog,” terang Elly.</p>
<p>Elly bersama suami mempunyai cara tersendiri agar anak-anaknya tegar melawan arus pergaulan yang permisif, yaitu selalu menyediakan waktu untuk berbicara khusus soal seks, kemudian  mengaitkannya dengan agama. Sebagai psikolog, Elly tahu benar pentingnya budaya keluarga dalam pendidikan anak. Di rumahnya, pola pendidikan semua dikembalikan kepada Al-Qur`an dan Hadist.</p>
<p>Elly mengaku, kondisi yang ia alami ketika remaja dulu dengan remaja sekarang jauh berbeda. Anak sekarang baru berumur 11 tahun sudah menstruasi, karena gizi yang lebih baik dan pengaruh tayangan-tayangan porno. “Media berbau pornografi luar biasa peredarannya. Kita bisa dengan mudah menemukan VCD, majalah dan tabloid porno di tempat-tempat terbuka yang bisa diakses siapapun, termasuk anak-anak dengan harga yang murah,” tegasnya.</p>
<p>Media apa yang paling berpengaruh atas penyebaran pornografi, khususnya pada anak-anak?</p>
<p>Televisi  dengan tayangan yang beragam tanpa melihat jam tayang. Sekarang ini sinetron menduduki peringkat teratas penyebar pornografi. Tetapi untuk kalangan menengah ke atas, pengaruh televisi masuk urutan nomor tiga setelah internet dan telepon seluler (HP).</p>
<p>Apa yang mesti dilakukan untuk mencegah penyebaran pornografi di televisi ataupun internet?</p>
<p>Saya sudah beberapa kali memprotes stasiun televisi, tapi hanya mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Untuk persoalan yang satu ini, kita harus bertarung dengan industri kapitalis yang ada di belakang industri pornografi serta ideologi tertentu.</p>
<p>Saya juga pernah ngomong  ke Menteri Agama, tentang bahaya tayangan televisi dan beliau membenarkan. Saya juga datang ke Komisi 8 DPR untuk membahas masalah ini. Saya membawa data-data yang lengkap tentang tayangan-tayangan yang buruk bagi anak-anak.</p>
<p>Mengenai pemblokiran terhadap situs pornografi, secara teknis sangat bisa dilakukan jika pemerintah mempunyai itikad baik untuk melindungi masyarakatnya. Karena itu saya tidak setuju dengan Menteri Infokom yang mengkampanyekan internet ke anak-anak sekolah tanpa sebuah filter yang kuat. Semestinya membuat dulu perangkat filternya, baru kemudian mensosialisasikan internet. Saya kira itu bisa dilakukan sebagaimana negara-negara tetangga kita. Kalau kita tidak bisa membuat filter, lebih baik dihentikan kampanye internet tersebut.</p>
<p>Anda nampaknya prihatin terhadap isi tayangan TV yang terlalu berorientasi bisnis?</p>
<p>Iya. Makanya kami pernah melakukan aksi bersama kawan-kawan yang peduli terhadap anak-anak dengan melakukan kampanye “Sehari tanpa TV”.  Diharapkan dengan adanya aksi ini keluarga mendapat kesempatan berharga untuk melakukan aktivitas bersama tanpa diganggu televisi. Dengan mematikan TV, maka setiap anggota keluarga akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan produktif, dan menyadari bahwa hidup bisa lebih bernilai tanpa TV.</p>
<p>Tujuan aksi tersebut untuk apa?</p>
<p>Mendesak industri penyiaran agar benar-benar  memperhatikan kepentingan masyarakat, terutama perlindungan terhadap anak dan remaja.  Kemudian menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap siaran televisi.</p>
<p>Tapi kenyataannya siaran itu terus berlangsung. Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya….</p>
<p>Ini tidak lepas dari kepentingan sesaat. Kalangan industri televisi punya argumentasi sendiri mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak memperhatikan kepentingan anak dan remaja. Intinya, kepentingan bisnis telah mengalahkan dan menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai pasar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Dan ketahuilah, meski stasiun TV sudah mulai memperbaiki isi siaran mereka, namun hal itu tetap tidak bisa menghilangkan kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi “makanan” yang merusak jiwa puluhan juta anak Indonesia.</p>
<p>Ini artinya gerakan hari tanpa  TV perlu dilanjutkan?</p>
<p>Iya. Itu semua kembali pada masyarakat sendiri. Sebab tidak ada pilihan lain kecuali masyarakat sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang besar.  Kami merencanakan mengadakan aksi “Enam Hari Tanpa TV” dalam waktu dekat.</p>
<p>Seberapa parah pengaruh negatif TV pada anak-anak?</p>
<p>`          Sangat parah. Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal berdarah-darah; sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis, dan amoral. Termasuk juga acara anak yang sebagian besar berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak.</p>
<p>Bayangkan, kalau anak-anak kita adalah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, pertanyaan-pertanyaan yang “di luar dugaan” dan sebagainya.</p>
<p>Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV.</p>
<p>Tulisan 3</p>
<p>Maju Terus Melawan Pornografi</p>
<p>Sebagai sebuah lembaga yang peduli dengan dunia anak, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sangat resah terhadap pornografi yang melanda anak-anak Indonesia. Hasil survei yayasan pimpinan Elly Risman ini terhadap 1.705 responden di Jabotabek pada 2005 menemukan hasil yang mengerikan. Lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses pornografi. Usia murid kelas 4-6 itu mayoritas (25 persen) mendapatkan materi pornografi melalui telepon seluler, situs porno di internet (20 persen), dan majalah serta film/VCD/DVD (masing-masing 12 persen).</p>
<p>“BBC dan CNN pada 2001 melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual,” terang Elly yang lulus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1978. Materi tersebut menurut Elly kemudian dijual, diekspor ke suatu jaringan situs pornografi anak di Texas. “Sebagai Muslim kita seharusnya malu dengan hal ini,” sesal Elly.</p>
<p>Namun ia mengaku tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan tersebut. Ia dan kawan-kawannya hanya bisa melakukan himbauan dan pengertian kepada berbagai pihak bahwa kondisi anak-anak Indonesia sudah diambang kehancuran. “Tidak banyak orang yang peduli dengan apa yang kami lakukan di sini,” terangnya. Karena itu ia mengaku seringkali mendapat kendala di lapangan dalam menjalankan porgram-program yayasannya.</p>
<p>Kendala itu bisa dari pihak pengambil keputusan yang sudah tidak peduli dengan apa yang ia lakukan maupun karena kendala pendanaan. Selama ini, kegiatan yang dilakukan dananya didapat dari urunan dan sumbangan beberapa kawan. “Saya berharap ada orang yang mau mendanai kegiatan kami,” harap Elly. Sedangkan dana dari luar negeri seperti PBB, ia tidak mau menerima karena dianggap syubhat.</p>
<p>Meski dana masih menjadi kendala, namun Elly tetap optimis dan akan bergerak terus demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.</p>
<p>Yang membuat Elly tidak habis pikir, kenapa aturan pornografi di Indonesia yang dikenal negeri Muslim lebih longgar dari pada Amerika, Inggris, Singapura, atau Korsel. Karenanya ia menuntut supaya segera diundangkannya RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang lebih memberikan perlindungan pada anak.</p>
<p>Anda begitu gigih memperjuangkan aksi antipornografi untuk anak. Begitu pentingkah itu?</p>
<p>Kita harus berjuang menyelamatkan anak Indonesia dari kekerasan pornografi. Itu tujuan utama kita. Contohnya, di negara-negara maju, Amerika, Inggris, atau di Eropa, mereka mengizinkan pornografi untuk orang dewasa. Tapi, di bawah 18 tahun tidak diizinkan. Itu bisa mereka lakukan melalui berbagai cara. Kalau pemerintah sungguh-sungguh sebenarnya bisa. Tapi saya melihat itikad pemerintah dalam hal ini kurang kuat.</p>
<p>Pernah Neno Warisman diundang salah satu Departemen Pemerintah untuk mengisi soal pornografi dan kekerasan pada anak. Neno menyampaikan pada panitia bahwa orang yang paling pas mengisi acara tersebut saya. Panitia setuju. Namun dua hari sebelum acara dilakukan, tahu-tahu dibatalkan. Alasannya, karena saya bukan public figur. Biarpun begitu saya tetap akan berjuang melawan pornografi.</p>
<p>Anda optimis masalah ini bisa teratasi?</p>
<p>Untuk hilang secara total tidak. Pornografi akan tetap ada seperti halnya kebaikan dan keburukan selama kehidupan ini. Namun semua agama pasti menghendaki kita untuk berbuat kebaikan. Yang bisa kita lakukan bagaimana meminimalkan penyebaran pornografi terutama pada anak-anak melalui undang-undang, karena yang ada saat ini belum memberikan efek jera.</p>
<p>Selain itu, dari segi penegakan hukum, aparat kepolisian perlu melakukan tindakan yang lebih progresif untuk meningkatkan profesionalisme kinerja aparat dalam memberantas pornografi.</p>
<p>Bagaimana upaya untuk melindungi anak-anak dari pengaruh pornografi?</p>
<p>Menurut saya perlu ada regulasi yang tegas, karenanya kita mendesak dan sedang terus memperjuangkan agar DPR segera mengundangkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Bagi kami RUU itu merupakan tujuan jangka menengah. Sedang tujuan utama kami yaitu menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.</p>
<p>Kami dari lembaga-lembaga peduli anak terus melakukan advokasi di lapangan serta melakukan penyadaran melalui seminar, betapa pentingnya mengawasi anak-anak, yang diterapkan berupa pendidikan untuk melakukan penjagaan mulai dari rumah sendiri.</p>
<p>Apakah cara itu cukup efektif?</p>
<p>Kita memang belum pernah melakukan penelitian secara akurat, seberapa besar persentase perubahan itu, karena aliansi ini kan masih baru. Untuk kongkritnya perlu dirumuskan lagi, tetapi untuk penyadaran melalui ibu-ibu sudah kami lakukan puluhan tahun yang lalu. Saya mengakui, ini tantangan yang sangat berat, seperti membangun istana pasir, sudah kita bangun kemudian dengan mudah terhapus gelombang berupa industri pornografi. Akibatnya moral anak kita terkikis lagi. Akan begitu terus, tetapi kita harus tetap peduli terhadap masalah ini.</p>
<p>Bagaimana pendapat Anda tentang kelompok yang berupaya membelokan RUU APP dan menganggap keberadaannya justru akan mengancam kebudayaan Indonesia?</p>
<p>Makanya saya bersama kawan-kawan berusaha mendatangi mereka untuk berdialog. Saya yakin,  pasti ada jalan keluar. Dan hal ini sudah dicoba beberapa waktu lalu melalui pertemuan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Alhamdulillah, sudah mulai terbuka, mudah-mudahan mereka sadar, bahkan tanpa malu-malu kami pun sudah mendatangi tokoh-tokoh yang berpengaruh di negeri ini untuk meminta dukungan.</p>
<p>Mengenai pembelokan yang dilakukan sekelompok masyarakat, saya mengajak kelompok yang berfikiran seperti itu untuk sama-sama membaca dulu RUU-nya, menyelidiki mana substansi yang mengancam kebudayaan seperti yang dimaksudkan. Saya mengakui, memang benar ada agenda di balik berbagai pendapat ini, namun kita harus bisa meyakinkan bahwa anggapan itu tidak benar.</p>
<p>Ketika saya mengisi seminar di Bali dan Menado, awalnya masyarakat sinis dengan saya. Namun setelah mendengar penjelasan saya, terutama tentang betapa besarnya ancaman pornografi terhadap anak-anak kita, mereka malah simpati pada saya.</p>
<p>Ternyata kalau mereka diajak berbicara tentang anak, pikirannya sama. Mereka juga khawatir dan takut anak-anaknya rusak. *</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=9&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/elly-risman-%e2%80%9cbanyak-orangtua-yang-tak-siap-jadi-orangtua%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendahuluan</title>
		<link>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/pendahuluan/</link>
		<comments>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/pendahuluan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2007 21:19:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bundaagnes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/pendahuluan/</guid>
		<description><![CDATA[Kiat Berkomunikasi secara Sehat: Menjadi Orangtua yang Pede Bicara Seks dan Bisa Membantu Anak Taat Beribadah dengan Menyenangkan Cara berkomunikasi seperti ini—“Ah, nggak usah dipikirin, nanti juga hilang sendiri. Masa gitu aja kamu nggak bisa?! Jangan nangis dong, kamu kan &#8230; <a href="http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/pendahuluan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=7&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Kiat Berkomunikasi secara Sehat:<br />
</strong><em>Menjadi Orangtua yang Pede Bicara Seks dan Bisa Membantu Anak Taat Beribadah dengan Menyenangkan </em></p>
<p>Cara berkomunikasi seperti ini—“Ah, nggak usah dipikirin, nanti juga hilang sendiri. Masa gitu aja kamu nggak bisa?! Jangan nangis dong, kamu kan sudah besar!”—sudah sangat akrab di telinga dan kita gunakan sejak jaman nenek buyut kita. Namun jika ternyata cara berkomunikasi semacam itu sebetulnya menyebabkan anak-anak kita menjadi rapuh, tidak percaya diri, merasa tidak berharga, dan tidak bisa mengoptimalkan kecerdasannya, akankah kita diam saja? Jika ternyata cara-cara berkomunikasi yang telah diwariskan itu dijadikan “peluang” oleh para pebisnis pornogarfi dan narkoba untuk menjadikan anak-anak kita target pasar mereka, akan kah kita berpangku tangan saja? Dan jika ternyata cara-cara kita berkomunikasi selama ini menyebabkan anak-anak kita melakukan ibadah hanya karena takut siksa dan bukan karena cinta pada Tuhannya, tegakah kita membiarkannya saja?</p>
<p>Ternyata, komunikasi yang selama ini terbangun turun temurun antara orangtua, anak, pasangan hidup, teman dan sesama, kebanyakan cenderung mengabaikan perasaan lawan bicara. Padahal komunikasi adalah dasar dari semua hubungan. Jika ada masalah dalam komunikasi, yang pertama menjadi korban adalah perasaan manusia. Secara alamiah, manusia butuh diterima perasaannya, sehingga dia merasa aman, nyaman dan bisa melanjutkan pembicaraan. Bila anak bertanya,”Kondom itu apa Ma?” dan lidah orangtua kelu hanya mampu berkata,”Hush saru! Nggak boleh tanya-tanya itu!” Bagaimana mungkin pembicaraan seputar seks akan berlanjut? Padahal keingintahuan anak soal seks suatu saat pasti akan menggebu. Apa jadinya bila kita biarkan mereka mencari tahu sendiri? Penasaran, mencoba-coba, dan akhirnya terjerumus dalam seks bebas, itu lah yang kebanyakan terjadi, dan semua berawal dari komunikasi!</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p>Menjadi orangtua sungguh merupakan suatu perjuangan berat dan panjang. Ketika kita ingin anak-anak kita taat beribadah pada Allah, lalu kita mengancam anak dengan perkataan,”Ayo sholat, kalau enggak masuk neraka!” Betulkah ancaman seperti itu bisa melahirkan anak-anak yang mencintai Tuhannya? Kita tak akan pernah tahu bila kita tak belajar. Namun sayang, tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua. Padahal mengasuh anak di jaman sekarang menghadapi tantangan yang luar biasa, apalagi di negeri orang seperti negeri Belanda ini. Kita tidak dapat lagi mengandalkan cara-cara pengasuhan yang selama ini kita ketahui secara turun temurun. Dan yang paling mendasar harus kita rubah adalah cara kita bicara atau berkomunikasi. Karena hampir semua permasalahan bersumber dari cara berkomunikasi yang tidak sehat.</p>
<p>Mengingat pentingnya komunikasi yang sehat sebagai suatu ‘obat’ untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada dalam pengasuhan, workshop ini menjadi penting diselenggarakan. Workshop ini semoga bisa membuat orangtua tercerahkan sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dan menggali potensi anak-anaknya secara optimal. Dengan diadakannya workshop ini diharapkan orangtua bisa ‘pede’ saat berbicara seks dengan anak-anaknya. Selain itu orangtua juga diharapkan bisa membantu anak taat beribadah dengan cara yang menyenangkan. Akhirnya dengan munculnya orangtua yang bijak dan tahu bagaimana cara berkomunikasi, mudah-mudahan akan muncul generasi penerus bangsa yang sehat bukan hanya fisiknya, tapi juga emosional dan spiritualnya. Generasi yang cerdas, penuh empati dan cinta akan Tuhannya!<!--more--></p>
<p><strong>MAKSUD &amp; TUJUAN</strong></p>
<ul>
<li>Meningkatkan kemampuan orangtua berkomunikasi dengan anak, mengenali dan memahami perasaan anak.</li>
<li>Memberi pengetahuan kepada orangtua mengenai dampak negatif dari teknologi media dan dampaknya bagi perkembangan kejiwaan anak serta kiat-kiat praktis bagaimana bicara tentang seks dengan anak, sehingga bisa menghasilkan anak yang seksualitasnya sehat, lurus dan benar.</li>
<li>Membahas bagaimana pentingnya mengenalkan Allah, Nabi kitab suci dan berbagai peraturan agama dengan menyenangkan tergantung usia.</li>
</ul>
<p><strong>BENTUK KEGIATAN</strong></p>
<p>Kegiatan workshop akan dilaksanakan dalam tiga hari, bertempat di Wijkcentrum &#8220;de Hofstee&#8221;, Delft. Detail kegiatan seminar adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Jum’at, 1 Juni 2007</strong></p>
<p>Jam  : 14.00 &#8211; 20.45 CET</p>
<p>Materi  : Kiat berkomunikasi yang sehat dan mencerdaskan</p>
<p><strong>Sabtu, 2 Juni 2007</strong></p>
<p>Jam  : 10.00 &#8211; 17.45 CET</p>
<p>Materi : Memahami dampak negatif teknologi media dan akibatnya bagi perkembangan kejiwaan anak dan Pede Bicara Seks pada anak anda</p>
<p><strong>Minggu, 3 Juni 2007</strong></p>
<p>Jam  : 10.00 -17.30 CET</p>
<p>Materi  : Bagaimana membantu anak kita beribadah dengan menyenangkan</p>
<p><strong>TARGET PESERTA<br />
</strong><br />
Target peserta workshop ini adalah warga Indonesia yang tinggal di Belanda yang peduli dan berminat untuk mengetahui lebih banyak mengenai seluk beluk pengasuhan anak, khususnya dalam hal meningkatkan kemampuan orangtua berkomunikasi dengan anak agar bisa pede bicara seks dengan anak dan bisa membantu anak taat beribadah secara menyenangkan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/workshopsalamaa.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/workshopsalamaa.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=workshopsalamaa.wordpress.com&amp;blog=910711&amp;post=7&amp;subd=workshopsalamaa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://workshopsalamaa.wordpress.com/2007/03/24/pendahuluan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cf01d15b59fe616dfa1652c641e7ec34?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bundaagnes</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
