Rekaman TOL Bersama Ibu Elly RIsman Musa, 2 Mei 2007

Rekaman Taujih Online (TOL) bersama Ibu Elly Risman Musa, pada tanggal 2 Mei 2007, dengan topik

“Problema Sehari-hari dalam Pengasuhan” bisa di download disini .
Berikut ini daftar pertanyaan yang diajukan sebelum acara dan saat acara TOL berlangsung.

More…

Pertanyaan yang dikumpulkan sebelum TOL dari peserta di Belanda :

Pertanyaan 1.

Di LN masalah pornografi & pornoaksi sudah susah sekali untuk dihindari. kalaupun kita berusaha melindungi anak2 dr tv/majalah, tapi di luar rumah, kita & anak2 akan dgn sangat mudahnya terexpose dengan berbagai bentuk pornografi dan pornoaksi. Terlebih lagi di belanda ini dimana hubungan sesama jenis yg sudah amat vulgar. Keterbiasaan melihat itu mau tidak mau berpengaruh pada pola pikir. Yang biasa terlihat, itulah yang dipahami anak sebagai yang boleh/wajar.

Bagaimana kita melindungi anak2 dari pola pikir ‘itu kan susah biasa’ seperti ini? dan Bagaimana memberi penjelasan yg mudah untuk dipahami anak2?

Pertanyaan 2.

a. Peer-Pressure
“Peer pressure”, atau tekanan dari teman sebaya, adalah hal yang lumrah dialami oleh seorang anak. Fenomena ini muncul jika mayoritas anak melakukan suatu hal, maka anak yang lain juga akan mengikuti hal itu. Peer-pressure bisa berakibat positif (jika mayoritas temannya berbuat baik) maupun negatif (jika mayoritas temannya berbuat buruk). Bagaimana mengajarkan kepada anak, agar tidak merasa terbebani dengan peer-pressure tersebut? Apa yang bisa dilakukan di rumah (secara praktik), agar orangtua bisa menumbuhkan kedewasaan dan kemandirian anak di tengah pergaulan dengan teman-temannya?

b. Kompetitif vs Kooperatif

Dalam dunia yang ideal, seluruh manusia seharusnya bisa saling bekerja sama, dalam bidang apapun. Sementara itu, dunia juga begitu kompetitif. Terkadang kompetisi itu begitu keras, sehingga bisa muncul sifat egois serta iri hati. Kemudian seseorang tidak mau berbagi resep keberhasilannya karena takut orang lain akan mengikuti keberhasilannya. Atau seseorang anak tidak mau membantu temannya belajar karena khawatir nantinya akan tersaingi jika temannya menjadi bisa. Pertanyaan yang muncul: bagaimana caranya mendidik anak agar dapat tumbuh menjadi manusia yang kooperatif sekaligus mampu bertahan di tengah dunia yang kompetitif?”

Pertanyaan 3

a.Bagaimana peran aktif saya sebagai ibu agar saya dapat mendidik anak (anak
saya Rido: 5 th sekolah SD “katholik”) secara prisip islam…memberikan
kesadaran kalo kita tuh tinggal di Belanda, tapi prinsip kita hanya Islam
saja…dan segala yg bertentangan dengan prinsip Islam harus di
elakan….Atau haruskah saya masukan anak ke sekolah Islam(yg jaraknya cukup
jauh, kondisi sekarang lebih sulit))…agar basisnya kuat sehingga tidak
akan terpengaruh dengan arus luar yg tidak baik…mohon saran dan masukan2x
dari ibu Ely….

b Bagaimana melatih anak untuk disiplin…misal: tiap hari pulang sekolah
harus ngaji dulu, baru boleh bermain….kadang2x dia marah mengelak dan
nangis, ngga mau ikut permintaan kita. apakah kita los, atau harus tetap pada permintaan kita tadi….mohon perjernihannya agar kita sama anak bisa membuat perjanjian dan diapun senang untuk mengerjakannya.

4. Bagaimana kalau anak kita hamil dalam usia dini, walaupun kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk ke jalan Allah. Tapi tetap aja terjadi, apa lagi kalau di sini anak2x sekolah dari jam 8 15 berangkat dari rumah, sampai dirumah lagi jam 16.30. Apa yang harus kita lakukan?

5. Tinggal di Luar negeri seperti di Belanda ini semua serba sendiri, tidak ada pembantu dan tidak ada juga yang bisa dititipi. Saya sering baca tentang teori-teori parenting yang menekankan pentingnya konsisten dan sabar dalam mengasuh anak, tentu juga dalam hal menegakkan disiplin. Tapi bu, seringnya, saya kehabisan energi, capek mengurus rumah, bolak balik antar jemput anak2 sekolah dan les, belanja, semua pakai sepeda (yang kalau angin lagi kencang betul-betul menguras tenaga). Belum lagi saya juga butuh waktu untuk sesekali keluar dari rutinitas. Padahal semua pekerjaan itu sudah saya bagi dua dengan suami, tapi tetap saja bu, kelelahan itu menyebabkan saya dan suami kadang jadi tidak konsisten dan hilang kesabaran, akhirnya saya menurunkan espektasi supaya tidak stress. Naah menurut ibu bagaimana mengatasi hal ini, supaya saya tetap bisa konsisten dan sabar dalam mendisiplinkan anak-anak walaupun dalam kondisi capek, sakit, dll ?

Pertanyaan yang dikumpulkan sebelum TOL dari peserta di Jerman :

Pertanyaan 1 :

Saya mempunyai 3 anak perempuan. Anak ke 2 saya memiliki sifat cenderung tidak mandiri darpada 2 anak lainnya. Segala sesuatu minta dilayani, selalu memposisikan bahwa ia tidak bisa melakukan sesuatu dan selalu ingin dibantu oleh yang lain. Selain itu ia cenderung cepat sedih atau menangis, jika permintaannya belum dikabulkan (jika ada permintaan harus segera dikabulkan, tidka bisa menunggu). Ia juga cenderung merasa takut bersama dengan orang-orang yang baru dikenalnya.

Pertanyaan :

1.Bagaimana berkomunikasi dengannya untuk memotivasinya bahwa ia bisa melakukan sesuatu?

2. Bagaimana mengurangi kadar ke’cengeng’annya atau menumbuhkan rasa kedewasaaannya?

Pertanyaan 2 :

Anak saya yang sudah masuk TK, sudah mulai senang meniru tingkahlaku teman2nya di TK dan juga meniru model2 putri Barbie di buku/komputer, misalnya berdandan/ber make-up, memaki baju putri2 dan acceccoriesnya, sehingga pernah suatu hari ia meminta tidak memakai jilbab yang biasa ia pakai setiap ke TK, dikarenakan ia ingin seperti teman2nya dan putri2 khayalan itu.

Apakah kondisi yang anak saya alami ini adalah kondisi yang wajar atau harus ada sesuatu yang diperbaiki/diluruskan darinya. Bagaimana sikap atau momunikasi yang bijak untuk meluruskannya?

Pertanyaan 3 :

Saya ingin merasakan hubungan personal yang baik dengan setiap anak saya, tidak hanya salah satu. Adakah cara2 atau kiat2 dalam membangun kedekatan pribadi dengan setiap anak, karena seringkali setiap kegiatan atau kebersamaan saya dengan anak2 melibatkan ke 3 nya dalam waktu yang bersamaan?

Pertanyaan 4:

Seputar proses reintegrasi anak usia sekolah kembali ke indonesia, untuk anak yang lahir dan sekolah di luar negeri / Jerman bagaimana sebaiknya mempersiapkannya terutama mental.

Pertanyaan Saat TOL Berlangsung

Pertanyaan 1 :

a. Bagaimana melatih kecerdasan emosional anak?

b. Akhir- akhir ini sudah sering kita dengar di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya,anak2 menjelang usia puber atau masih usia SD melakukan bunuh diri. Ditinjau dari sudut psikologis Kenapa mereka melakukan hal senekad ini? Sebagai contoh anak saya pernah bercerita pada saya bahwa temennya disekolah pernah curhat kepadanya, bahwa temannya itu merasa sedih dan marah sekali, sehingga dia menangis sampai2 terlintas dipikirannya mau bunuh diri. Maksudnya biar semua orang (Ortu dan teman2nya) merasa kaget dan sedih kalo dia meninggal cara itu. Apakah pada usia tersebut anak-anak wajar mempunyai pikiran seperti itu?

Pertanyaan 2 :

Ada seorang ibu yang ketika kecil punya pengalaman child abuse.ketika ia sudah menjadi ibu seringkali ia berbuat kasar kepada anaknya secara tidak sadar.pertanyaanya: dapatkah ia menjadi ibu yang baik tanpa dibayang2i pengalaman masa kecilnya?bagaimana cara menghilangkan pengaruh masa kecilnya itu?

Pertanyaan 3 :

Bagaimana jika anak pertama dan kedua tidak pernah rukun, mereka selalu cenderung bermusuhan. tapi anak kedua dan ketiga bisa rukun sekali, anak pertama dan ketia juga “kadang Kadang” rukun. menurut ibu, apakah yang salah dan bagaiamana cara kita menyelesaikannya? Info tambahan: anak pertama: 10, anak kedua: 7 anak ketida: 4tahun

Pertanyaan 4:

Untuk usia anak 14 tahun (anak tunggal),kita sering memberikan tanggung jawab padanya, tapi seringnya anak tersebut menolak tanggung jawab tersebut. pertanyaannya : bagaimana kita mengkomunikasikannya?

Pengaruh Internet dan Televisi, Orangtua dan Sekolah harus lebih banyak campur tangan

Dalam berita ranesi tanggal 20 april lalu (ada juga berita ini di jeugdjournal Belanda), katanya anak-anak SD di belanda sekarang makin banyak yang melakukan pelecehan seksual terhadap temannya. Dan menurut De winter, seorang guru besar pedagogi belanda, ini karena pengaruh media. Dalam artikel di bawah ini, dia mengatakan,”banyak orang tua berpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pengaruh televisi dan internet. Tapi itu tidak benar. orang tua dan sekolah harus lebih banyak campur tangan.”

Naah bagaimana caranya? Salah satunya tentu dengan meningkatkan ilmu kita sebagai orangtua, supaya kita tahu bagaimana menangkal pengaruh-pengaruh media ke anak kita, dan kata-kata apa yang harus kita tekankan ke anak-anak kita agar terhindar dari pelecehan seksual. Dulu waktu  saya ikut pelatihan dengan yayasan kita dan buah hati, saya diperlihatkan brosur bagaimana cara kita orangtua berbicara kepada anak dan bekal apa yang perlu kita berikan ke anak agar mereka terhindar dari pelecehan seksual, Nanti di acara workshop bisa kita tanyakan juga soal ini bagi yang ingin tahu.

Selamat membaca artikel ini dan  selamat daftar workshop… hehe maksa.com neh judulnya🙂

Baca lebih lanjut

Mendurhakai Anak

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan.

Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Baca lebih lanjut

Mendidik Anak di Tengah Tantangan Zaman

Masalah anak dan remaja masa kini sungguh berat. Ayah dan ibu pun harus bahu-membahu. Ani, sebut saja begitu, tersentak saat menemukan kalimat ‘aneh’ di buku anaknya. Kalimat itu kurang lebih begini,  

…… ”Aku mencintaimu. Nanti kita mandi bareng, baru ciuman.”Sang buah hati masih duduk di kelas 1 SD. Wanita itu tidak membayangkan anak seusia anaknya berpikiran seperti dalam kalimat yang ditulisnya. Tak percaya dengan ungkapan dalam kalimat itu, Ani lalu bertanya, `’Ini tulisanmu, ya?”`’Ya, tapi disuruh (teman),” jawab si anak.Merasa tidak puas, Ani menyampaikannya kepada guru kelas. Sang guru mengatakan, teman anaknya itu memang suka menyuruh teman-temannya menuliskan hal-hal semacam itu. Ani pun bertanya, `’Bagaimana saya bicara ke anak saya?” Elly Risman SPsi dan Ustadz M Ihsan Tanjung dihadirkan sebagai sumber.Kalau anak sudah menulis seperti itu, Elly Risman berpendapat, orang tua jangan lagi membuang waktu. Misalnya, menunggu waktu yang dianggap tepat untuk mengatasinya. Apalagi berharap penyelesaian dari guru di sekolah. `’Anak kita harus kita urus sendiri,” ucapnya. Masalahnya beratElly mengakui, masalah anak dan remaja saat ini memang berat. Orang tua sibuk dengan banyak persoalan, juga serbuan media seperti koran, majalah, televisi, video hingga internet.

Baca lebih lanjut

Seks Bebas Remaja Indonesia Merajalela

Orangtua mana yang tak bergidik mengetahui data tentang perilaku seks bebas remaja Indonesia masa kini dibawah ini. Seks bebas sungguh telah menjadi hal biasa! Bagaimana cara menangkalnya? Penelitian di pelbagai negara menemukan bahwa anak remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan seks bebas, jika mereka dapat membicarakan masalah seks dengan orang tuan. Artinya, orang tua harus menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anaknya! Telah siapkah kita, para orangtua menjadi pendidik seksualitas bagi anak-anak kita? Bagaimana meluweskan lidah kita agar tak kelu ketika harus bicara saru dengan anak-anak kita?

Temukan jawabnya dalam acara workhsop Salamaa 1-3 Juni 2007.

Dan untuk mengetahui data lebih lengkap tentang perilaku seks bebas remaja masa kini, silahkan simak artikel di bawah ini.

Baca lebih lanjut

Kisah: Seorang Bapak dan Akuntan yang Peduli terhadap Pengasuhan Anak

Apakah tanggung jawab pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu? Tapi bukankah anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. “‘Bikin’nya sama-sama, tanggung jawabnya juga sama-sama dong…,” begitu kan kasarnya🙂

Kisah dibawah ini merupakan contoh seorang bapak yang walaupun sibuk tetap peduli terhadap pengasuhan anak-anaknya. Mengapa? Karena menjadi orangtua itu tidak gampang dan perlu ilmu. Karena untuk menciptakan generasi yang lebih baik, butuh orangtua yang peduli, bukan hanya ibu tapi juga bapak. Berdua, ibu dan bapak, ber’tanggo’bersama dalam mengasuh buah hatinya. Ah..alangkah indahnya. TentuTuhan pun akan tersenyum disana melihat amanahnya dijaga.

Berikut cerita lengkapnya..

Baca lebih lanjut

100x lebih mudah mendidik anak di luar negeri!

Assalamu’alaikum…

Dear all…masih inget diskusi kita dulu soal lebih baik dimana membesarkan anak, di Indonesia atau di luar negeri? Kalo nggak salah beberapa minggu yang lalu mbak dessy jg posting ulang hasil diskusinya. Kesimpulannya saat itu dikembalikan pada pilihan masing-masing kan. Naa tadi, saya kontak bu Elly Risman lagi (koordinasi soal kedatangan beliau kemari). Kami sempat ngobrol-ngobrol dan akhirnya sampe pada pertanyaan di atas. Dan ternyata jawaban beliau betul-betul membuat saya kaget. Percakapan dibawah ini ga persis-persis amat seperti tadi, tapi intinya kira-kira begini…

Baca lebih lanjut