Kisah: Seorang Bapak dan Akuntan yang Peduli terhadap Pengasuhan Anak

Apakah tanggung jawab pengasuhan anak hanya menjadi tugas ibu? Tapi bukankah anak-anak itu adalah amanah bagi kedua orangtuanya. “‘Bikin’nya sama-sama, tanggung jawabnya juga sama-sama dong…,” begitu kan kasarnya🙂

Kisah dibawah ini merupakan contoh seorang bapak yang walaupun sibuk tetap peduli terhadap pengasuhan anak-anaknya. Mengapa? Karena menjadi orangtua itu tidak gampang dan perlu ilmu. Karena untuk menciptakan generasi yang lebih baik, butuh orangtua yang peduli, bukan hanya ibu tapi juga bapak. Berdua, ibu dan bapak, ber’tanggo’bersama dalam mengasuh buah hatinya. Ah..alangkah indahnya. TentuTuhan pun akan tersenyum disana melihat amanahnya dijaga.

Berikut cerita lengkapnya..

Tubagus Sofiuddin, S.E., M.M. Ak.
Akuntan yang Peduli terhadap Pengasuhan Anak

ANAK bisa diibaratkan kertas putih yang masih kosong. Apa yang dituliskan di atasnya, itulah yang akan membentuk pribadi seorang anak. Jika yang “dituliskannya” yang baik-baik, maka anak akan menjadi baik, dan sebaliknya. Karenanya pendidikan dan pengasuhan orang tua sangatlah menentukan dalam membentuk pribadi seorang anak. Hal inilah yang menjadi perhatian Tubagus Sofiuddin, S.E., M.M. Ak. dalam konsep “parrenting”-nya. Ia ingin para orang tua, khususnya orang tua muda, mengetahui bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik.

“ITU ada ilmunya lho! Banyak orang tua yang tidak tahu bagaimana mengasuh dan mendidik anak yang baik, sehingga sering salah dalam memperlakukan anaknya. Saya sendiri bukan ahli atau pakar dalam masalah ini, tetapi saya ingin memberikan kontribusi dalam memperbaiki generasi mendatang, ” ujar pria kelahiran Jakarta 12 Oktober 1968 ini.

Sebenarnya kesibukan ayah dari Ratu Alifa Nurfira (5) dan Tubagus Baraka Kautsar (2) ini sudah cukup padat. Karena selain menjadi Staf Direktorat Jendral Pajak di Kanwil Pajak Jawa Barat, Cibeunying ia juga menjadi dosen di beberapa tempat. Antara lain di Program Magister Manajemen (M.M) Unpad, Program Magister Akutansi (Maksi) Universitas Muhammadiyah Jakarta serta mengajar di Diklat Perpajakan BPLK Depkeu Cimahi.

Belum lagi aktivitasnya di berbagai organisasi seperti menjadi pengurus di Yayasan Kita dan Buah Hati, anggota Mark Plus Bandung dan lain-lain. Lelaki yang akrab dipanggil Ofi ini juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah tabloid bisnis di Bandung. Bahkan saat ini suami dari Ratih Irawaty Abidin, S.E., Ak. ini tengah menyelesaikan Program Doktor Manajemen Bisnis (DMB) di Unpad.

Akan tetapi kesibukannya itu tidak membuat Ofi jauh dari keluarga. “Sesibuk apapun kita, kalau mau sebenarnya kita bisa menyisihkan waktu untuk keluarga. Saya beranggapan selain kualitas, kuantitas pertemuan dengan keluarga juga sangatlah penting sehingga komunikasi tidak akan terputus,” tuturnya.

Ucapan itu memang bukan hanya di mulut, itu terbukti ketika ngobrol dengan “Hikmah” Ofi dengan senang hati kerap menanggapi pertanyaan putranya bahkan bercanda atau menyuapi anak bungsunya.

Ofi prihatin jika seorang anak curhat-nya tidak kepada orang tuanya. Itu menandakan komunikasi di antara mereka (anak dengan orang tua-Red) tidak terjalin dengan baik. Padahal akan sangat berbahaya jika anak curhat kepada orang lain, karena kapasitas orang yang dijadikan tempat “curhat” anak belum tentu memadai sehingga anak bisa saja menerima informasi yang salah.

Menurut Ofi orang tua harusnya bisa menyelami jiwa sang anak sehingga bisa menjadi teman bagi si anak. Anak pun tidak akan ragu-ragu untuk curat kepada orang tuanya. “Misalnya saja, meski sang ayah seorang direktur, tetapi jika anaknya minta tolong agar sepedanya diperbaiki, sang ayah hendaknya turun langsung untuk menolongnya. Jangan mentang-mentang direktur, ia menyuruh orang lain utuk memperbaiki sepeda anaknya yang mungkin kerusakannya juga tidak seberapa”.

Jika anak masih berusia antara 1-12 tahun, lanjut Ofi, maka teknik pendidikan orang tua kepada anaknya bisa menggunakan cara “4B”, Bermain, Belajar, Bernyanyi dan Bercerita. Orang tua bisa menanamkan pendidikan tanpa membuat anak merasa sedang dididik. Misalnya ketika anak mengatakan tidak bisa ketika ia belum mencoba mengerjakannya, maka orang tua dapat menyanyikan lagu “Kamu Pasti Bisa”. Lagu itu mendorong anak untuk mencoba melakukan sesuatu, sebelum berkata tidak bisa, sehingga dengan suasana santai anak jadi terdorong atau termotivasi untuk melakukannya. Atau bisa juga dengan memanfaatkan momen yang sedang digandrungi anak-anak saat ini.

“Misalnya saja anak saya kan suka kepada Haikal AFI (Akademi Fantasi Indosiar-Red), maka jika mengajak bermain anak saya itu, saya akan meniru gaya Haikal dalam berpakaian maupun cara bernyanyi. Teryata anak saya suka dan mau mendengarkan kata-kata saya yang diucapkan melalui nyanyian,” ucap Ofi sambil tertawa.

Ofi tertarik terhadap masalah pengasuhan anak setelah sering mengikuti kegiatan Club Buah Hati, Yayasan Kita dan Buah Hati yang dikelola Neno Warisman dan Eli Risman di Jakarta. Bahkan saat masih kuliah Ofi kerap mengikuti pelatihan atau ceramah sekitar pendidikan keluarga.

“Terus terang saya tidak sempat pacaran, makanya ketika saya ‘bertemu’ dengan ibunya anak-anak, saya langsung mengajaknya menikah. Karena itu tadi saya sudah sering menerima ceramah-ceramah pendidikan tentang bagaimana seharusnya hidup berkeluarga,” ujar Ofi.

Bersama sang istri, Ofi mencoba mengembangkan Yayasan Kita dan Buah Hati di Bandung. Di antaranya dengan mengadakan seminar dan diskusi di antara para orang tua murid. Di Kota Bandung upayanya itu memang belum begitu bergema. Banyak hambatannya, terutama masyarakat masih belum merasa membutuhkannya. Bahkan tak jarang meski pria ini sudah mengupayakan fasilitas untuk sosialisasi program parrenting, tetapi respons masyarakat belum begitu memuaskan. Kendati demikian Ofi optimis jika terus diupayakan program dan konsep “parrenting” bisa dimasyarakatkan, khususnya di Kota Bandung dan sekitarnya.

“Saya teringat akan kata-kata ibu saya yang mengatakan mengurus sesuatu yang baik itu memang tidak mudah dan banyak hambatannya, hasilnya pun belum tentu memuaskan. Kata ibu saya, jika ingin untung sih gampang jualan karcis saja di bioskop pasti laku karena orang senang dan untungnya segera didapatkan. Kata-kata ibu saya itu melekat di benak saya sehingga insya Allah saya tidak akan pernah putus asa dalam mengupayakan kebaikan,” tandas Ofi.

Padahal, lanjutnya, jika para orang tua mendidik anak dengan baik, itu adalah kewajibannya bahkan demi kebutuhannya juga kelak di kemudian hari. “Misalnya saya menyuapi anak dengan harapan anak sayalah nanti yang akan menyuapi saya ketika saya sakit. Saya memandikan dan memakaikan baju anak dengan harapan anak sayalah yang nantinya memandikan dan mengkafani saya ketika saya meninggal. Saya juga mengajarkan anak saya salat dengan harapan anak saya akan mendoakan saya. Semua itu kan bekal kita dan anak kita. Juga agar anak juga bermanfaat bagi lingkungannya,” papar Ofi.

**

KETERTARIKAN Ofi terhadap pengasuhan anak, tidak lepas dari peran pendidikan orang tuanya. Ayahnya, Tubagus Rafiuddin, yang seorang qori (pembaca Alquran) merupakan figur yang sangat keras dalam mendisiplinkan anak-anaknya. Sebaliknya, sang ibu, Nadratul Uyun merupakan figur yang penuh kelembutan sehingga jika anak-anaknya merasa kecewa, baik oleh hal-hal di luar keluarga maupun dari dalam keluarga, ibu akan menjadi tempat “curhat” dan penyejuk bagi anak-anaknya. Sehingga orang tua Ofi bisa dikatakan saling melengkapi.

Pendidikan yang ditanamkan orang tua Ofi, memang bisa dikatakan berhasil mengantarkan anak-anaknya menjadi “orang”. Namun Ofi tetap tidak setuju dengan cara disiplin keras yang ditanamkan ayahnya. “Ini merupakan kritik terhadap ayah saya, juga para orang tua yang terbiasa menanamkan disiplin dengan keras terhadap anaknya. Cara keras tidak mmebuat anak dekat dengan orang tua malah bisa-bisa anak lari dari rumah. Itu saya pernah alami, tetapi untunglah ibu bisa menyejukan kembali hati saya sehingga saya pun bisa curhat kepadanya,” papar anak ke lima dari sembilan bersaudara ini.

Kendati demikian ada satu pesan ayahnya yang membekas di benaknya. “Ayah saya berpesan agar anak-anaknya jangan bangga karena orang tua. Misalnya dengan melontarkan kalimat lihat babe gue, tapi seharusnya yang dibanggakan itu ada di diri sendiri sehingga yang terucap ini lho saya. Orang tua boleh kaya, tapi kan itu orang tua bukan saya. Dari pesan itu juga tersirat agar kita tidak membeda-bedakan derajat manusia. Karenanya saya pun mengajarkan kepada anak agar jangan terlalu melihat kulit. Kemasan memang perlu tapi itu bukan substansi”.

Ayahnya juga sering menceritakan tentang sepak terjang dan kepahlawanan seseorang. Sehingga di benak Ofi tertanam bahwa orang yang mempunyai ilmu itu punya makom (tempat) khusus dan terhormat.

Disiplin yang keras di perguruan tinggi juga ikut membentuk pribadi Ofi. Selepas SMA di Jakarta, Ofi ingin meringankan beban orang tua dengan memilih sekolah yang punya ikatan dinas, sehingga pada 1992 ia memilih pendidikan program diploma pajak STAN, lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Departeman Keuangan RI. Sekolah ini terkenal dengan kedisiplinannya yang keras, para mahasiswa dituntut belajar keras karena jika tidak memenuhi standar maka langsung di DO. “Bahkan ada anekdot, doa anak STAN itu pendek saja, dia bukan ingin jadi kaya tetapi agar lulus dari tingkat satu ke tingkat dua, dari tingkat dua ke tingkat tiga dan seterusnya,” papar Ofi.

Kebiasaan disiplin seperti itu terbawa hingga ke jenjang pendidikan berikutnya, S1 di Akutansi Unpad (1998), S2 di Magister Manajemen Unpad (2002) serta S3, juga di Unpad. Etos kerjanya semakin terpacu sejak Ofi bertemu dengan mantan Perdana Menteri Malaysia Dr. Mahatir Muhammad yang mengatakan “Ucapan Pak Mahatir selalu saya ingat. Ia mengatakan ‘bangsa Melayu sering dikatakan bangsa yang malas. Padahal itu tidak benar. Bangsa Melayu adalah bangsa yang rajin tetapi tidak tekun sehingga sering menunda-nunda pekerjaan’. Harus kita akui bekerja keras dan ketekunan adalah kunci kesuksesan,” papar Ofi.***

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0704/18/hikmah/lainnya04.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s